Senin, 19 Januari 2009

METODE DISMANTLING TOWER CRANE

1.0 REFERENSI
1.1. Gambar kerja assembling dan dismantling tower crane
1.2. Rencana Mutu Proyek

2.0 ALAT
2.1. Mobilitas tower crane
- Kendaraan Trailler
- Mobil crane/ telescopic
2.2. Kebutuhan Peralatan
- Palu 5 kg
- Tali tambang
- Safety belt
- Helm
- Sarung tangan
2.3. Kebutuhan perawatan Tower Crane
- Oli
- Grease
- Kanvas brake
- Kanvas seling
BAGIAN-BAGIAN TOWER CRANE
2.4. Counter Hoist
- Motor hoist
- Seiling hoist
- Gear box
- Control panel
- Panel travo
- Pin pengikat
- Railing
2.5. Cabin
- Bordes Cabin
- Cabin & Fan
- Baut pengikat
- Wipper
- Lampu
- Handle Operation Unit
2.6. Tower Head
- Tower head frame
- Bordes tower head
- Pully
- Winch service head
- Penangkal petir
- Lampu sinyal
2.7. Counter Jib
- Counter jib
- Railing
- Pin Pengikat
- Ballast
- As batu ballast
- Tie rod
- Pin tie rod
- Pully
2.8. Tower Head
- Jib
- Pin jib
- Motor trolly
- Trolly Car
- Hook
- Hoist selig trolly
- Tie Rod

BAGIAN-BAGIAN PENDUKUNG
2.9. Kabel Pendukung
- Kabel power (NYY - HY)
- Kabel penangkal petir
- Kabel lampu
- Spit grounding
2.10. Alat Pendukung
- Kunci ring 70”
- Kunci pas 70”
- Kunci Ring 65”
- Kunci ring 65”
- Grease injection pump
- Volt meter
- Ampere meter
- Motor oil limit
-
2.11. Consumable Material
- Oli
- Grease
- WD 40
2.12. Power Pendukung
- Genset
- Solar
- PLN

3.0 LANGKAH KERJA
3.1 PONDASI
Umumnya dikarenakan tanah keras biasa dijumpai pada kedalaman jauh di bawah permukaan tanah, maka pondasi Tower Crane memakai pondasi dalam (tiang pancang/ bored pile). Pada tabel (terlampir), telah disusun kekuatan tiang pancang/ bored pile yang diperlukan. Banyaknya dan ukuran tiang pancang/ bored pile dapat ditentukan dengan cara membandingkan kekuatan tiang (tabel) terhadap hasil rekomendasi laporan penyelidikan tanah per proyek.

3.2 PENEMPATAN TOWER CRANE
Acuan Penempatan Tower Crane meliputi
a. Radius Jangkau
Pemilihan radius jangkau dan jumlah Tower Crane yang diperlukan disesuaikan dengan luasnya proyek sehingga dapat menjangkau area loading/ unloading dan adanya overlapping dengan Tower Crane lainnya (apabila dibutuhkan lebih dari 1 Tower Crane).
b. Antisipasi Void Sementara
Untuk proyek perkantoran atau tower, Tower Crane sebaiknya diletakkan di luar bangunan. Demikian juga untuk bangunan dengan area yang luas (seperti mall) diusahakan agar penempatan Tower Crane di dalam bangunan seminimal mungkin untuk mempermudah proses dismantling. Penempatan Tower Crane di dalam bangunan harus memperhatikan struktur semua lantai agar void sementara tersebut tidak menghalangi pekerjaan lainnya (seperti balok prestress, ramp, bangunan utilitas).
c. Antisipasi Kemudahan Dismantling Tower Crane
Harus dipastikan agar pada saat dismantling Tower Crane, Mobile Crane dapat mencapai lokasi tersebut, posisi jib dan counter weight tidak terhalang oleh struktur bangunan pada saat penurunan dan terjangkau Mobile Crane.




3.3 ASSEMBLING TOWER CRANE
Assembling Tower Crane
a. Persiapan Alat Bantu dan Tools
Sebelum assembling dimulai, terlebih dahulu alat-alat dipersiapkan :
- Mobil Crane kapasitas sesuai kebutuhan
- Tolls (kunci-kunci)
b. Assembling Base Section
Base Section dipasang diatas anchor dan harus menghadap kearah yang sudah diperhitungkan sebelumnya, untuk memudahkan pada waktu jacking Tower Crane dan Dismantling Tower Crane.
c. Assembling Clambing Cage
Clambing Cage dipasang pada Base Section, pastikan bahwa clambing catch (cangkolan clambing) duduk pada tempatnya. Kemudian dilengkapi dengan pasang plat form dan hand reiling.
d. Assembling Slewing Table
Slewing Table dipasang diatas Base Section dan Clambing Cage, ada yang dengan sistem baut, ada yang dengan pen, tergantung dari type dan merk Tower Crane.
Pastikan bahwa setelah dipasang Slewing Table antara Base Section dan Clembing Cage simetris.
e. Assembling Tower Head
Tower Head (kuncung) dipasang diatas Tower Head, untuk Tower Head ini ada dua macam sistem, yaitu sistem baut dan pin (tergantung dari merk dan tipe alat).
f. Assembling Counter Jib
Sebelum dipasang, Counter Jib dilengkapi dulu dengan: Plat Form, Hand Railing, Tie Rod. Setelah bagian-bagian tersebut terpasang baru Counter Jib dipasang di Slewing Table dan Tower Head.
g. Assembling Jib
Element-element Jib disambung-sambung sampai pada ukuran tertentu (panjang jib sesuai dengan radius yang diperlukan). Antara element jib yang satu dengan yang lain disambung atau di connect dengan pin, kemudian dipasang Trolley. Tie Rod dipasang diatas jib disambung-sambung sesuai dengan panjangnya jib. Selanjutnya jib diangkat dengan alat Bantu (mobil crane) untuk dipasang dislewing table dan tower head dengan pin.
h. Assembling Counter Weight
Counter Weight dipasang satu persatu pada counter jib pada bagian belakang sampai pada jumlah yang sudah ditentukan.


i. Assembling Wire Rope (seling)
- Trolley Wire Rope
Dari drum wire rope (seling), seling ditarik melalui pulley kemudian di connect di trolley bagian depan (ujung yang kedepan). Untuk ujung yang ke belakang seling ditarik melalui pulley kemudian diconnect di trolley bagian belakang.
- Hoisting Wire Rope
Dari drum seling, seling ditarik melalui pulley-pulley pada trolley diteruskan ke pulley-pulley yang ada pada balok kemudian kembali ke pulley trolley yang lain diteruskan lagi sampai ke ujung jib lalu dipasang di free Twist Rope Fastener.
j. Assembling Electric System
- Electric System
Penyambungan kebel-kebel listrik harus dilakukan dengan penuh ketelitian sesuai dengan kode atau nomor yang ada pada ujung kabel. Pastikan rangkaian electric sudah sesuai dengan diagram eletrik pada buku manual. Dan semua komponen sudah diperiksa dengan alat: Multi tester dan Tang Ampere.
k. Jacking Tower Crane
Jacking Tower Crane mempergunakan hydraulic system yang digerakkan dengan motor listrik, dari pompa hydraulic ini tekanan dipindahkan ke cylinder hydraulic. Dari cylinder hydraulic inilah tenaga yang dipergunakan untuk mengangkat bagian dari tower crane, yaitu dari mulai slewing table, jib, counter jib, Counter weight dan tower head.
Sebelum dimulai jacking, tower crane dibebani utnuk mencari keseimbangan. Beban ini digantung pada jib dan jaraknya diatur. Pastikan antara jib dan counter jib sudah menjadi seimbang. Setelah yakin bahwa keseimbangan telah tercapai maka jacking dimulai tahap demi tahap sampai pada ketinggian satu element section.
Kemudian section dimasukkan ke dalam clambing cage untuk diconnect (disambung) dengan element yang sudah terpasang, dengan baut atau pin, karena ada yang mempergunakan baut ada pula yang mempergunakan pin pada sambungan tersebut (sesuai dengan type dan merk tower crane).
Setelah element section terpasang, slewing table dipasang ke element section yang baru terpasang. Maka selesailah jacking satu element section.
l. Frame Collar (Bracing Tower Crane)
Apabila Tower Crane sudah melampaui ketinggian dari free standing maka harus dipasang bracing. Frame Collar dipasang pada element section pada ketinggian tertentu kemudian dihubungkan ke bangunan. Dipasang sedemikian rupa agar dapat menahan gaya puntir atau moment puntir.



m. Pasang Penangkal Petir
Penangkal Petir dipasang sesuai dengan persyaratan: Ukuran kabel minimum 50 mm, Elektroda bawah harus sampai pada permukaan air tanah. Dan Elektroda yang diatas Tower Crane ukurannya 1 inch.

3.4 Test Beban
a. Penyetelan Pembatas Beban
Tower Crane dipakai untuk mengangkat beban sesuai dengan kapasitas terkecil. Kemudian trolley dijalankan ke depan sampai batas limit depan. Limit beban distel, sehingga apabila beban melebihi dari beban kapasitas terkecil maka pembatas beban akan bekerja.
b. Penyetelan Pembatas Moment
Tower Crane dipakai untuk mengangkat beban sesuai dengan kapasitas terkecil langsung dari ujung limit depan. Kemudian limit moment distel agar beban bisa terangkat. Setelah itu diturunkan kembali kemudian beban ditambah kira-kira 50 kg, dan pembatas moment harus bekerja (artinya beban tidak bisa terangkat).
c. Penyetelan Pembatas Trolley (Pangkal dan Ujung Jib)
Pembatas Trolley Pangkal.
Trolley dijalankan kearah pangkal, setelah 20 cm mendekati pangkal pembatas trolley distel agar trolley tidak dapat mundur lagi.
Pembatas Trolley Ujung
Trolley dijalankan kearah ujung, setelah 20 cm mendekati ujung, pembatas trolley distel sehingga trolley tidak dapat maju lagi.
d. Penyetelan Pembatas Hoist
Hoist dijalankan kearah turun, 1 meter sebelum sampai ke dasar (tanah) pembatas hoist distel sehingga hook tidak dapat menyentuh tanah.
Hoist dijalankan kearah atas, ½ meter sebelum sampai ke jib pembatas hoit distel sehingga hook tidak dapat menyetuh jib.
e. Penyetelan Pembatas Hoist, Brake Slewing dan Brake Troller
Brake Hoist
Brake Hoist distel sampai mampu utnuk menahan daya angkat pada beban maksimal.
Brake Slewing
Brake Slewing distel agar dapat menahan terpaan angin dan dapat menghentikan gerakan putar secara perlahan-lahan.
Brake Trolley
Brake Trolley distel agar trolley dapat berhenti sesuai yang dikehendaki operator.



3.5 Running
a. Hoist
Hoist dioperasikan naik turun-naik turun sambil diawasi seluruh bagian-bagian yang ada hubungannya dengan Hoist, antara lain: Motor Hoist, Pulley, Bearing, Seling, gear Box, Brake. Dapat bekerja dengan baik.
b. Slewing
Slewing dioperasikan, diputar kekiri dan kekanan sambil diawasi seluruh bagian-bagian yang ada hubungannya dengan slewing, antara lain: Motor Slewing, bearing, Brake, Gear Slewing.
c. Trolley
Trolley dioperasikan maju mundur-maju mundur sambil diawasi seluruh bagian-bagian yang ada hubungannya dengan Trolley, antara lain: Motor Trolley, Seling, Pulley, Brake, Roller Trolley dapat bekerja dengan baik.

4.0 DISMANTLING TOWER CRANE
4.1. Persiapan Alat Bantu dan Tools
Sebelum Dismantling dimulai, terlebih dahulu alat-alat dipersiapkan:
- Mobil Crane kapasitas sesuai kebutuhan
- Tools (kunci-kunci)
4.2. Penurunan Tower Crane
Penurunan Tower Crane mempergunakan hydraulik system yang digerakkan dengan motor listrik, dari pompa hydraulik ini tekanan dipindahkan ke cilinder hydraulik. Dari cilinder hydraulik inilah tenaga yang dipergunakan untuk mengangkat dari tower crane, yaitu dari mulai slewing table, jib, counter jib, counter weight dan tower head.
Sebelum dimulai jacking, harus dibebani untuk mencari keseimbangan. Beban ini digantung pada jib dan jaraknya diatur. Pastikan antara jib dan counter jib sudah menjadi seimbang. Setelah yakin bahwa keseimbangan telah tercapai maka penurunan Tower Crane dapat dimulai.
Baut yang menghubungkan slewing table dengan element section yang paling atas dilepas (apabila Tower Crane dengan dengan system pin maka pin yang dilepas). Setelah itu Slewing Table diangkat dengan jack sampai terpisah dengan section, kemudian baut (pin) yang menghubungakan section paling atas dengan yang dibawahnya dilepas. Kemudian element section yang sudah dilepas, dikeluarkan dari clambing cage ke depan ke tempat dudukan atau gantungan section diluar clambing cage. Selanjutnya jack diturunkan terus sampai pada section yang masih tersambung dengan yang lain, maka pekerjaan penurunan selesai satu section, dan seterusnya diulang sampai pada yang paling rendah dari ketinggian Tower Crane (sampai terjangkau mobil crane yang telah dipersiapkan).

4.3. Melepas Bracing
Bressing dilepas dengan cara, melepas pin apabila memakai pin. Kemudian bracing atau frame collar diturunkan.

4.4. Melepas Wire Rope
Wire Rope Trolley dilepas dari trolley lalu digulung, diletakkan di dekat motor trolley.

4.5. Melepas Kabel Electric
Kabel-kabel electric seperti kabel power dilepas, kemudian kabel-kabel listrik yang terikat pada bagian-bagian tertentu socketnya dilepas (dilepas dari connectingnya).

4.6. Melepas Counter Weight
Counter weight diangkat dengan alat mobil crane satu persatu. Melepas counter weight ini harus mengikuti petunjuk dari buku manual, karena ada tower crane yang counter weightnya dapat dilepas semua, ada yang disisakan satu atau dua sebelum jib depan dilepas (hal ini untuk menjaga keseimbangan).

4.7. Melepas Jib
Jib diangkat dengan mobil crane pada titik tengahnya, agar ada keseimbangan, terus sampai ketinggian tertentu dimana tie rod bisa dilepas dan menempel pada jib bagian atas. Tie Rod diikat dengan tali kawat pada jib agar tidak melejit ke samping. Selanjutnya jib diturunkan sampai ujung jib selevel dengan pangkal jib yang dislewing table. Kemudian pin yang menghubungkan jib dengan slewing table dilepas, maka jib sudah terlepas dari slewing table, lalu jib diletakkan di tempat yang rata, diganjal agar trolley tidak tertimpa jib itu sendiri. Setelah itu jib dilepas element demi element. Demikian juga tie rodnya dilepas satu persatu.

4.8. Melepas Counter Jib
Apabila di counter jib masih ada counter weight yang tersisa maka counter weight harus diturunkan sampai habis, kemudian counter jib diangkat oleh mobil crane pada ketinggian tertentu agar dapat melepas pin tie rod. Setelah tie rod terlepas jib diturunkan sedikit sampai ujungnya selevel dengan pangkal, kemudian pin yang menghubungkan dengan slewing table dilepas. Maka counter jib sudah terlepas, dan counter jib dapat diletakkan di tempat yang rata.

4.9. Melepas Tower Head
Tower head dilepas dari slewing table, kemudian diangkat dengan alat mobil crane lalu diletakkan ditempat di bawah.


4.10. Melepas Slewing Table
Slewing Table dipasang seling angkat pada empat titik, kemudian dikaitkan ke hook mobil crane yang sudah disiapkan. Baut atau pin yang menghubungkan slewing table dengan base section dan clambing cage dilepas. Selanjutnya slewing table diangkat dengan base section dan clambing cage dilepas.

4.11. Melepas Clambing Cage
Clambing cage dilepas dari base section, untuk tower crane yang dimensi sectionnya kurang dari 160, clambing cage bisa ditarik keatas langsung lepas dari base section. Tetapi apabila dimensi section tower crane lebih dari 2 meter, clambing cage dilepas bagian demi bagian.

4.12. Melepas Base Section
Base Section diangkat dari anchor denagn alat mobil crane, setelah baut-bautnya dilepas (pin).

4.13. Bongkar Pondasi Melepas Anchor
Pondasi beton dibobok sampai dengan anchornya dapat diambil.

5.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN
Pemeriksaan dan pengetesan Tower Crane dilakukan sesuai dengan Prosedur Pengendalian Alat (PR/EQP-1/R2)

6.0 REKAMAN
6.1 Checklist Tower Crane (FM/EQP-1/14.09)

7.0 LAMPIRAN
7.1 Standard Pondasi Tower Crane Raimondi ER 240
7.2 Pondasi Raimondi ER 240
7.3 Standard Pondasi Tower Crane Raimondi ER 180
7.4 Pondasi Raimondi ER 180


STANDARD PONDASI TOWER CRANE RAIMONDI ER 240



Ip = 2 ( a12 + a22 + a32 + … )

(Np+Nc) M.a1
Daya dukung tiang = ————— + ———
n Ip

dimana:
Np = Berat Tower Crane (t)
Nc = Berat Pondasi (t)
n = Jumlah tiang pancang/bored pile (min. 4 titik), di keempat sudut
M = Moment (t.m)

Standard pondasi Tower Crane ER240 = 5000x5000x1700

Free Standing (± 30 meter)

Jib (m) Np (T) Nc (T) n M (t.m) a1 (m) Ip (m2) Tiang (t)
70 102 82 4 196 2,6 13,52 84
66 102 80 4 219 2,6 13,52 88
60 102 77 4 227 2,6 13,52 88
56 102 76 4 230 2,6 13,52 89
50 102 73 4 230 2,6 13,52 88
46 102 72 4 228 2,6 13,52 87
40 102 68 4 234 2,6 13,52 88
36 102 68 4 256 2,6 13,52 92

Tulangan minimum = D25-200, keliling pile cap

Apabila tinggi Tower Crane > 30 meter, dipasang Tie In



STANDARD PONDASI TOWER CRANE RAIMONDI ER 180
(SETARA JIANG LU, POTAIN, LIEBHERR) Panjang Jib = max. 50 m




Ip = 2 ( a12 + a22 + a32 + … )

(Np+Nc) M.a1
Daya dukung tiang = ————— + ———
n Ip

dimana:
Np = Berat Tower Crane (t)
Nc = Berat Pondasi (t)
n = Jumlah tiang pancang/bored pile (min. 4 titik), di keempat sudut
M = Moment (t.m)

Standard pondasi Tower Crane ER180 = 4000x4000x1300
(tebal pondasi disesuaikan dengan panjang angkur setiap merk TC)

Free Standing (± 30 meter)

Jib (m) Np (T) Nc (T) n M (t.m) a1 (m) Ip (m2) Tiang (t)
60 39 68 4 168 2 8 69
56 39 66 4 158 2 8 66
50 39 63 4 172 2 8 69
46 39 62 4 176 2 8 69
40 39 60 4 172 2 8 68

Tulangan minimum = D22-200, keliling pile cap

Apabila tinggi Tower Crane > 30 meter, dipasang Tie In

MEMAHAMI BAHASA SI BATITA (BAYI)

MEMAHAMI BAHASA SI BATITA
"Bun, num...," tahukah Anda maksud ucapan si batita ini? Atau ketika ia berkata, "Co jangan mam, Yah...," apa yang terlintas di kepala Anda?
Memang tak mudah untuk memahami bahasa si batita, tetapi bukan berarti kita tak dapat belajar mengenal maknanya. Asal tahu saja, sejak awal usia batita, anak mulai mampu mengucapkan sebuah kata yang mempunyai arti. Persoalannya, si anak belum bisa mengucapkan kata tersebut dengan artikulasi yang baik seperti halnya orang dewasa. Makanya tak heran jika pengucapannya sering kali sepotong-sepotong, misalnya "minum" jadi "num" atau "pergi" jadi "gi", dan lainnya.
Kemampuan berbahasa ini dipengaruhi oleh kematangan otak (khususnya limbik otak bahasa) dan pembentukan lingkungan terutama yang paling menentukan adalah orangtua. Semakin banyak orangtua memberikan stimulus kepada anak, maka efeknya akan berbanding lurus, anak akan semakin kaya kosakata. Jadi, semakin sering orangtua menanggapi ajakan anak berkomunikasi dan mengenalkan banyak konsep, juga benda, otomatis perkembangan bahasanya akan semakin maju.
Yang juga penting disadari, dalam rentang perkembangan seorang anak terdapat masa peka, termasuk masa peka perkembangan bahasa. Hanya di masa peka inilah, istilahnya dengan sekali sentuhan saja, apa yang kita tanam langsung berbuah. Sebaliknya, jika masa peka perkembangan bahasa ini terlewatkan begitu saja, maka orangtua akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan anak dengan kemampuan berbahasa yang prima. Lantas, bagaimana cara mengetahui masa peka tersebut? Jawabannya, hanya orangtua yang selalu berinteraksi dan memiliki kedekatan dengan anak yang mengetahuinya.

TAHAPAN PERKEMBANGAN BAHASA
* Usia 1 tahun:
Anak berada pada tahap linguistic speech yang sangat sederhana dan satu kata bisa mewakili banyak pemikiran lengkap. Anak sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata, tetapi cuma sepotong, dan sepotong kata itu bisa punya arti panjang. Contoh, saat anak bilang "bun" dengan maksud Bunda, artinya mungkin saja, "Aku ingin digendong," atau "Aku ingin ikut jalan-jalan bersama bunda."
* Usia 2 tahun:
Sekalipun masih mirip dengan kemampuan di usia satu tahun, tetapi di usia ini anak sudah mampu menggabungkan dua kata atau lebih menjadi satu kalimat yang bermakna dan berarti. Contohnya, "Minum susu," atau "Pergi sana," hingga "Tidak susu. Putih saja."
* Usia 3 tahun:
Anak sering melakukan hal yang sangat menarik perhatian karena ia tengah memasuki tahap membangkang, yaitu melakukan yang dilarang dan tidak melakukan yang diizinkan. Tak heran jika dalam perkembangan bahasanya, anak senang mengatakan sesuatu yang membuat orangtua cemas dan malu, seperti "bego", "mampus", dan kata-kata kasar lainnya. Apalagi jika ditunjang dengan seringnya orangtua melarang anak mengucapkan kata-kata tersebut tanpa penjelasan yang tepat. Belum lagi kosakata yang diperolehnya di usia ini semakin banyak dan tidak melulu hanya dari orangtua.
Selain itu, mulai usia ini juga umumnya anak mengeluarkan kalimat yang kadang terdengar janggal karena susunan kata-katanya tidak tepat alias terbalik-balik, sehingga apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan maksud si anak.
Walaupun begitu, orangtua tak perlu cemas. Hal ini wajar terjadi pada batita, karena:
* Anak pertama kali baru bisa bicara menyambungkan lebih dari satu hingga dua kata hingga membentuk sebuah kalimat yang berarti.
* Anak pertama kali baru bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui bahasa yang mempunyai arti dan bisa dipahami.
* Anak banyak mempunyai kosakata untuk dijadikan sebuah kalimat yang digunakannya saat berkomunikasi.
* Anak mulai memeroleh banyak informasi kata dan kalimat baru yang menarik.
* Kemampuan mengolah kata dalam bentuk kalimat hingga menjadi sebuah bahasa di otaknya masih sangat terbatas.
* Pengalaman berbahasanya masih sangat minim.
CARA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BAHASA
Jika cara-cara di bawah ini dilakukan secara terus-menerus dan konsisten, maka anak akan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya berbahasa dan berkomunikasi dan baik. Inilah beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua saat berkomunikasi dengan si batita:
• Gunakan bahasa yang benar, bukan baby talk seperti, "Oh, mau mimi cucu, ya," tapi, "Oh, mau minum susu, ya?"
• Gunakan kalimat dan kata yang tidak bermakna ganda. Contoh, "Jangan ke sana, bahaya!" Ingat, ke sana itu bisa berarti ke luar rumah, ke tempat cucian, ke dapur, dan ke banyak tempat lainnya. Lebih baik, katakan, "Jangan ke dekat kompor menyala, bahaya!"
• Gunakan selalu kalimat pendek.
• Hindari kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak menirunya.
• Karena anak masih belajar, orangtua sebaiknya melantunkan bahasa dengan jelas, tidak cepat-cepat dan dengan gerak mulut (bibir dan lidah) yang tegas sehingga mudah dikenali dan diikuti anak.
• Jika menemukan kesalahan pada kata/kalimat dalam bahasa anak, segera luruskan dengan cara mengulang ucapannya secara benar.
5 "MASALAH" BAHASA & SOLUSINYA
1. Bicara terbalik-balik
Contoh, si kecil mengatakan, "Co jangan mam, Yah." Orangtua tinggal meluruskan dengan mengucapkan kalimat yang sama dan arti yang sama tapi susunannya benar, "Ayah jangan makan bakso ini." Dilanjutkan dengan memberikan jawaban, "Oke, Ayah tidak makan bakso ini." Bisa juga dilanjutkan, "Bakso ini punyamu, ya."
Jangan sekali-kali mengatakan ucapannya itu salah, "Salah itu. Yang benar seperti ini..." misalnya. Ingat, di usia batita, anak "hobi" membangkang (tahap negativistik), sehingga bisa terjadi si kecil malah akan terus mengulang yang salah. "Kenapa juga harus kayak gitu. Intinya, kan bisa dimengerti," begitu batin si anak.
Jika dibiarkan, bahasa anak akan berkembang ke arah yang tidak tepat, membingungkan, sehingga tidak dipahami lingkungan dan menyulitkannya dalam bersosialisasi. Mungkin juga, anak akan mengalami disleksia, meskipun perjalanan sampai ke situ jauh sekali. Yang pasti, sesuatu yang salah jika dibiarkan akan membawa efek tak baik.

2. Bicara kasar atau jorok
Tak jarang kita mendengar anak batita mengatakan kalimat kasar seperti, "Bego lu" atau "Mampus lu". Bisa jadi kata-kata kasar itu diperolehnya dari lingkungan bermain. Ketika orangtua tidak dapat mengawasi anak terus-menerus, tentu tak ada jaminan anak terhindar dari contoh kata-kata seperti itu, bukan?
Karenanya, diperlukan perhatian orangtua agar anak mengurangi pengucapan kata-kata tersebut dan tidak menjadikannya kebiasaan. Namun, jangan sekali-kali memvonis bahwa anak kasar, nakal, atau jorok, sekalipun kata-kata tidak sopannya dilontarkan di muka umum. Siapa tahu anak melakukan itu karena senang pada bunyinya, sementara ia belum tahu arti dan maknanya secara pasti.
Hanya saja, tidak tertutup kemungkinan anak mengucapkan kata-kata kasar atau kotor sebagai ungkapan kekesalan atau kemarahan. Bila demikian, orangtua mesti mengajarkan cara menyalurkan rasa marah dan kesal yang dapat diterima orang lain. Jangan lupa, jelaskan alasannya seperti, "Adek, ucapanmu itu bisa membuat orang lain sedih, lo." Atau, "Kalau dikatain bego, apa kamu juga mau? Sedih enggak? Orang lain juga sama."
Untuk anak yang belum tahu arti kata kasar dan kotor yang ia ucapkan, jelaskan makna yang sebenarnya, "Ade, tai itu kan kotoran yang keluar kalau kita pup. Jadi tidak baik diungkapkan pada orang lain."
Tetapi jika ucapannya menggambarkan kondisi nyata apa adanya, semisal, "Enggak mau, Om bau," karena si om habis berolaraga dan badannya bau keringat, tentu tidak apa-apa dan anak tak bisa disalahkan.

3. Salah makna kata atau kalimat
Sekalipun anak usia ini sudah mampu merangkaikan lebih dari 3 kata menjadi sebuah kalimat, akan tetapi sering kali kalimat tersebut maknanya salah. Bahkan tak jarang, satu kalimat yang diucapkan anak mempunyai arti yang bejibun, seperti "Bun, mam susu, lapar."
Kondisi ini terjadi karena keterbatasan kemampuan anak untuk menggunakan kosakata yang ada di memorinya menjadi sebuah kalimat seperti yang diinginkannya. Yang harus dilakukan orangtua adalah segera meluruskannya detik itu juga, "Adek haus atau lapar? Setelah mendapat jawaban, katakan lagi, "Oh, Adek lapar. Jadi ingin makan, ya."

4. Cadel.
Biasanya anak batita cadel saat mengucapkan bunyi: R jadi L, K jadi D, dan S dengan T sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda, lo.
Cadel terjadi bisa karena kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah. Orangtua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan yang benar seperti apa. Tetapi ingat, orangtua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa, apalagi jika saat itu belum tiba waktunya kematangan untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya.
Sebaliknya jika dibiarkan saja, mungkin anak akan terus berada dalam kecadelannya, sehingga akan semakin sulit diluruskan kalau dia sudah lewat masa tune in dalam proses kematangannya.
Sedangkan, cadel karena kelainan fisiologis semisal lidahnya pendek, tak punya anak tekak, atau langit-langitnya cekung. Penanganannya tentu harus dibawa ke dokter.

5. Mengucapkan hanya ekornya saja.
Yang ini memang sering terjadi pada anak batita. Contoh, "minum" jadi "num", "pergi" jadi "gi", "minta" jadi "ta", "mau" jadi "u", dan seterusnya. Kalau melihat logika dari teori barang masuk ke kotak, di situ jelas terlihat, barang yang masuk terakhir pasti akan jadi terdepan atau lebih dulu yang kita lihat. Nah, seperti itu pula yang terjadi pada seorang anak. Belum lagi, kemampuan otaknya untuk menangkap, mencerna, dan mengeluarkan apa yang dia miliki masih dalam tahap belajar. So, wajar dong kalau masih suka tersendat-sendat.
Gazali Solahuddin. Ilustrator: Pugoeh
Narasumber: Ira Puspita, MSi.,Pembantu Dekan I Bidang Akademik, Universitas Gunadarma, Depok

Minggu, 18 Januari 2009

INSTRUKSI KERJA BEKISTING PILE CAP DAN TIE BEAM

1.0 REFERENSI

4.1. Gambar kerja denah Pile cap dan Tie beam
4.2. Rencana Mutu Proyek

2.0 ALAT
2.1. Meteran
2.2. Theodolite
2.3. Autolevel/ bak ukur
2.4. Benang
2.5. Alat gali manual/ excavator kecil
2.6. Molen beton
2.7. Sendok semen

3.0 LANGKAH KERJA
A. Pekerjaan Persiapan
a. Sebelum dilakukan pekerjaan galian tanah, sudah dipastikan terlebih dahulu bahwa posisi, dimensi dan elevasi pile cap telah final. Artinya telah diketahui (telah ada gambar terbaru yang meliputi):
- Pembesaran pile cap akibat eksentrisitas as tiang pondasi.
- Penurunan elevasi pile cap, akibat ketidaksempurnaan kepala tiang.
b. Gali tanah pada lokasi pile cap dan tie beam sesuai dengan gambar kerja sampai dengan elevasi dasar pile cap/ tie beam ditambah dengan lantai kerja dan urugan pasir, lebar galian tersebut harus cukup untuk ruang kerja pemasangan bekisting. Lebar galian ditentukan oleh keputusan jenis bekisting yang akan dipakai. Pemakaian bekisting kayu memerlukan lebar galian yang lebih besar. Perlu diperhatikan sudut kemiringan galian tanah agar tidak longsor  tergantung dari kestabilan lereng tanah khususnya untuk galian dengan kedalaman lebih dari 1 meter.
c. Setelah tiang pondasi dipotong dan diangkat dilanjutkan dengan pembuatan patok dari potongan besi atau kayu pada sudut-sudut pile cap dan pertemuan pile cap dan tie beam.

B. Pekerjaan Pelaksanaan
a. Rapikan/ ratakan dasar galian bila perlu lakukanlah pemadatan dengan stamper untuk pile cap yang besar.
b. Setelah tanah rata, urug dasar galian dengan pasir dengan ketebalan urugan sesuai persyaratan sampai dengan sisi luar rencana bekisting pile cap/ tie beam.
c. Buatlah lantai kerja di atas urugan pasir dengan tebal minimal 5 cm hingga elevasi dasar pile cap/ tie beam.
d. Marking posisi pile cap dan tie beam dengan sipatan pada lantai kerja dan tarik benang pada patok yang telah tersedia sesuai dengan rencana elevasi atas pile cap/ tie beam.
e. Pemasangan Bekisting
Pemasangan bekisting dapat menggunakan material pasangan bata kapur, batako atau bekisting kayu. Dalam menentukan jenis material bekisting yang digunakan perlu dilakukan analisa biaya dan kecepatan pemasangan. Keuntungan pemakaian bekisting kayu adalah pemakaian berulang (5 – 6 kali), relatif cepat, tetapi sesudahnya ada pekerjaan bongkar bekisting. Di pihak lain bekisting bata/ batako mempunyai keunggulan dalam hal hemat galian dan keterbatasan ruang kerja serta tidak adanya pekerjaan bongkar bekisting.
1. Bekisting kayu.
 Buatlah panel bekisting sesuai dengan tinggi dimensi tie beam atau pile cap dengan menggunakan multiplek 9 mm dan diperkuat dengan kayu kaso 5/7 dijepit pada sisi atas dan bawahnya (bila diperlukan ditengah juga dipasang, khususnya untuk dimensi pile cap/ tie beam dengan tinggi  70 cm) dan diperkuat tiap jarak tertentu pada arah vertikal  jarak penjepit kayu kaso pada arah vertikal disesuaikan terhadap dimensi tie beam atau pile cap sehingga mampu menahan gaya lateral pada saat pengecoran beton.
 Pasanglah panel bekisting pada posisi sesuai marking yang telah disediakan.
 Pasanglah sekur-sekur untuk perkuatan samping menggunakan kayu balok 7/10 pada sisi atas dan bawah panel hingga panel tidak bergeser posisinya kemudian periksalah terhadap arah vertikal / lot vertikal.
 Pasanglah form tie bila dimensi tie beam cukup besar untuk perkuatan posisi panel bekisting.
2. Bekisting bata/batako/ bata kapur
 Pasanglah bata / batako / bata kapur sesuai marking dengan adukan semen dan pasir untuk penyambungannya.
 Uruglah tanah pada sisi samping pile cap/ tie beam hingga padat sebagai perkuatan terhadap bekisting itu sendiri.
f. Pekerjaan bekisting selesai dan dapat dilanjutkan dengan pekerjaan pemasangan tulangan pile cap/ tie beam dan pengecoran beton.

4.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN
4.1. Posisi
4.2. Dimensi

5.0 REKAMAN
5.1. Pemeriksaan Pekerjaan Sebelum Pengecoran (Lihat lamp. 6.1 dari IK/ODR/ST-12/R1 hal 1)
5.2. Pemeriksaan Pekerjaan Setelah Pengecoran (Lihat lampiran 6.2 dari IK/ODR/ST-12/R1)

6.0 LAMPIRAN
Tidak ada

instruksi kerja raft foundation

1.0 REFERENSI
4.1. Gambar kerja struktur
4.2. SK-SNI-1991
4.3. Rencana Mutu Proyek

2.0 ALAT

2.1 Concrete pump
2.2 Selang Tremi
2.3 Vibrator
2.4 Pompa Dewatering
2.5 Jidar Almunium
2.6 Thermo Coupler
2.7 Auto Level / Waterpass
2.8 Theodolite
2.9 Bak Ukur
2.10 Lampu Penerangan
2.11 Tenda

3.0 LANGKAH KERJA

3.1. Perencanaan
a. Pengecoran raft foundation dilakukan dalam satu kali pengecoran, kecuali bila ada hal-hal yang membuat pengecoran tidak dapat dilakukan dalam satu kali, maka perlu dilakukan pembagian area pengecoran yang harus mendapat persetujuan dari Konsultan.
b. Karena volume beton yang dibutuhkan dalam satu pengecoran besar, maka hal tersebut menjadi pertimbangan dalam penentuan supplier beton (kapasitas batching plant dan kontinuitas pengiriman beton).
c. Beton harus disupply oleh satu supplier, dapat dengan beberapa batching plant, untuk menjamin mutu dan keseragaman beton.
d. Karena area pengecoran raft foundation luas dan memerlukan volume beton yang besar maka harus direncanakan jumlah concrete pump yang dibutuhkan, dengan memperhatikan setting time beton untuk menghindari cold joint, penempatan concrete pump, penempatan dan perpindahan pipa concrete, juga sirkulasi mobil mixer beton.
e. Tenaga kerja pengecoran harus direncanakan jumlah dan pembagian shiftnya sesuai jumlah concete pump dan waktu pengecoran yang panjang (12-15 orang untuk 1 concrete pump dengan pembagian shift kerja setiap 10 jam).

3.2. Persiapan
a. Membuat Sump pit ( 60 x 60 x 60 cm) disudut galian raft foundation (min 2 bh) untuk dewatering dan pembuangan kotoran.
b. Buat lubang dibeberapa tempat (minimum 4 lokasi) pada pembesian atas raft foundation untuk jalan masuk pekerja storing cor, jika diperlukan dibuat juga tangga pekerja.
c. Lokasi pengecoran dibersihkan dengan alat :
- Compresor untuk kotoran
- Magnet baja untuk sisa – sisa kawat besi
d. Memasang kabel thermocoupler di bagian atas, tengah dan bawah pada beberapa titik di dalam area pengecoran.
e. Pemeriksaan akhir pemasangan besi sesuai bending schedule.
f. Pemasangan water stop:
d.1. Untuk yang berhubungan dengan dinding biasanya menggunakan jenis PVC
d.2. Untuk yang berhubungan dengan pemberhentian cor antar daerah menggunakan type bentonite (seperti dodol), ini sebagai contruction joint. Sistem pemasangan terlampir.
g. Memeriksa kesiapan alat-alat, yaitu
- Concrete pump
- Vibrator
- Tenda
- Lampu penerangan
h. Pemasangan relat.

3.3. Pelaksanaan pengecoran
a. Luas dan volume beton harus dihitung terlebih dahulu untuk mengontrol pemesanan dan pengiriman beton.
b. Beton yang datang diperiksa slumpnya, yang harus sesuai dengan spesifikasi, dan kemudian dilakukan pencatatan.
c. Untuk memeriksa mutu beton, diambil sampel beton sesuai spesifikasi.
d. Penuangan beton dengan tinggi jatuh beton lebih dari 1 meter, dibantu dengan menambah selang fleksibel pada ujung pipa concrete.
e. Pengukuran suhu beton dengan thermocoupler juga dilaksanakan di dekat posisi penuangan beton, untuk mengetahui suhu beton pada saat itu. Bila suhu beton di area tersebut sudah mencapai suhu maksimum yang disyaratkan, maka penuangan beton dipindahkan, dan dilakukan lagi pengukuran suhu pada posisi penuangan beton yang baru. Demikian seterusnya dilakukan hal yang sama pada pengecoran di setiap posisi pengecoran.
f. Kontinuitas pengecoran harus dijaga untuk menghindari cold joint.
g. Perataan permukaan beton dilakukan seperti pelaksanaan pengecoran pelat lantai biasa, baik dengan atau tanpa floor hardener.


h. Setelah pengecoran selesai, dilakukan curing dengan cara :
- bila permukaan lantai memakai floor hardener maka pertama-tama curing dilakukan dengan curing compound, kemudian diikuti langkah di bawah ini
- bila tidak memakai floor hardener maka curing langsung dilakukan dengan menutup seluruh permukaan beton terlebih dahulu dengan plastik, kemudian ditutup dengan styrofoam setebal minimum 2 cm sebanyak 2 lapis dengan arah yang berbeda antara lapisan, dan kemudian disiram dengan air sampai air tergenang (water ponding)
i. Penutupan dengan plastik dan styrofoam tersebut dilakukan serapat mungkin, juga perlu adanya atap tenda untuk menutupi permukaan, menjaga agar seminimal mungkin uap air yang hilang akibat panas hidrasi beton.
j. Melakukan pemeriksaan temperatur dengan thermocoupler dari kabel yang sudah terpasang untuk mengetahui temperatur beton agar tidak melebihi temperatur yang disyaratkan dan untuk menjaga agar perbedaan temperatur pada titik yang berlainan  4 – 6  C, dengan melakukan penyiraman air yang terus menerus.
k. Setelah curing selesai dilakukan, lapisan styrofoam dapat dibuka dan pekerjaan struktur selanjutnya boleh dilakukan.
l. Bila raft foundation berhubungan dengan pelat lantai maka pada area pertemuan tersebut ada pelat lantai yg ikut dicor bersama dengan raft foundation,  2 meter dari sisi luar raft foundation dan dibuat construction joint untuk pemuaian (terlampir)
m. Bila pengecoran tidak dilakukan satu kali sehingga ada pertemuan (construction joint) antara beton yang lama dan yang baru, maka pada pertemuan beton tersebut dipasang water stop (terlampir).

4.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN
4.1 Persiapan
4.2 Pemeriksaan sebelum dan setelah pengecoran

5.0 REKAMAN

5.1 Pemeriksaan Pekerjaan Raft Foundation.
5.2 Pemeriksaan Pekerjaan Sebelum Pengecoran (Lihat lamp. 6.1 dari IK/ODR/ST-12/R1 hal 1)
5.3 Pemeriksaan Pekerjaan Setelah Pengecoran (Lihat lampiran 6.2 dari IK/ODR/ST-12/R1)

6.0 LAMPIRAN

6.1 Gambar Construction Joint
6.2 Form Pemeriksaan Pekerjaan Raft Foundation.








(Nama Proyek)
PEMERIKSAAN PEKERJAAN RAFT FOUNDATION
Form No. : (No. form)/(Nama Proyek)/PPRF/(Bulan)/(Tahun)
Tanggal : Halaman No. :
Lokasi : Jumlah Halaman :
Kuantitas :
No. Item pemeriksaan Kriteria penerimaan Hasil pemeriksaan *) Keterangan / Catatan
Sesuai Tidak sesuai Tidak perlu
1 Persiapan
- Sump pit Min. 2 bh
- Lubang inspeksi Min. 4 lokasi
- Kondisi lokasi pengecoran Bersih
- Thermo coupler Tersedia
- Waterstop Sesuai gambar kerja
- Kesiapan alat
o Concrete pump Min. ….. unit
o Vibrator Min. ….. unit
o Tenda Tersedia
o Lampu penerangan Cukup, ….. mata lampu
2 Pemeriksaan sebelum dan setelah pengecoran Sesuai checklist pemeriksaan sebelum dan setelah pengecoran Digunakan form:
- Form Pemeriksaan Sebelum Pengecoran
- Form Pemeriksaan Setelah Pengecoran














Kesimpulan *) :  Diterima
 Ditolak
 Diterima dengan cacatan:


Diperiksa oleh,
(Owner / MK)



(Nama)
(Jabatan) Diajukan oleh,
PT TATAMULIA NUSANTARA INDAH



(Nama)
Pelaksana
Disetujui oleh,
(Owner / MK)



(Nama)
(Jabatan) Mengetahui,
PT TATAMULIA NUSANTARA INDAH



(Nama)
Site Manager
Keterangan : *) Isi tanda pada kolom /  yang sesuai

construction material

CONSTRUCTION MATERIALS
(Source: Standard Handbook for Civil Engineers)

This section describes the basic properties of materials commonly used in construction. For convenience, materials are grouped in the following categories: cementitious materials, metals, organic materials, and composites. Application of these materials is discussed in following sections. In these sections also, environmental degradation on the materials are described.

Cementitious Materials
Any substance that bonds materials may be considered a cement. There are many types of cements. In construction, however, the term cement generally refers to bonding agents that are mixed with water or other liquid, or both, to produce a cementing paste. Initially, a mass of particles coated with the paste is in a plastic state and may be formed, or molded, into various shapes. Such a mixture may be considered a cementitious material because it can bond other materials together. After a time, due to chemical reactions, the paste sets and themass hardens. When the particles consist of fine aggregate (sand), mortar is formed. When the particles consist of fine and coarse aggregates, concrete results.

1. Types of Cementitious Materials
Cementitious materials may be classified in several different ways. One way often used is by the chemical constituent responsible for setting or hardening the cement. Silicate and aluminate cements, in which the setting agents are calcium silicates and aluminates, are the most widely used types.
Limes, wherein the hardening is due to the conversion of hydroxides to carbonates, were formerly widely used as the sole cementitious material, but their slow setting and hardening are not compatible with modern requirements. Hence, their principal function today is to plasticize the otherwise harsh cements and add resilience to mortars and stuccoes. Use of limes is beneficial in that their slow setting promotes healing, the recementing of hairline cracks.
Another class of cements is composed of calcined gypsum and its related products. The gypsum cements are widely used in interior plaster and for fabrication of boards and blocks; but the solubility of gypsum prevents its use in construction exposed to any but extremely dry climates.
Oxychloride cements constitute a class of specialty cements of unusual properties. Their cost prohibits their general use in competition with the cheaper cements; but for special uses, such as the production of sparkproof floors, they cannot be equaled.
Masonry cements or mortar cements are widely used because of their convenience. While they are, in general, mixtures of one or more of the abovementioned cements with some admixtures, they deserve special consideration because of their economies.
Other cementitious materials, such as polymers, fly ash, and silica fume, may be used as a cement replacement in concrete. Polymers are plastics with long-chain molecules. Concretes made with them have many qualities much superior to those of ordinary concrete.
Silica fume, also known asmicrosilica, is awaste product of electric-arc furnaces. The silica reacts with lime in concrete to form a cementitious material. A fume particle has a diameter only 1% of that of a cement particle.

2. Portland Cements
Particles that become a bonding agent when mixed with water are referred to as hydraulic cements. The most widely used cements in construction are portland cements, which are made by blending a mixture of calcareous (lime-containing) materials and argillaceous (clayey) materials. (See Art. 5.3 for descriptions of other types of hydraulic cements.) The raw materials are carefully proportioned to provide the desired amounts of lime, silica, aluminum oxide, and iron oxide. After grinding to facilitate burning, the raw materials are fed into a long rotary kiln, which is maintained at a temperature around 2700 °F. The raw materials, burned together, react chemically to form hard, walnut-sized pellets of a new material, clinker.
The clinker, after discharge from the kiln and cooling, is ground to a fine powder (not less than 1600 cm2/g specific surface). During this grinding process, a retarder (usually a few percent of gypsum) is added to control the rate of setting when the cement is eventually hydrated. The resulting fine powder is portland cement.
Four compounds, however, make up more than 90% of portland cement, by weight; tricalcium silicate (C3S), dicalcium silicate (C2S), tricalcium aluminate (C3A), and tetracalcium aluminoferrite (C4AF). Each of these four compounds is identifiable in the highly magnified microstructure of portland cement clinker, and each has characteristic properties that it contributes to the final mixture.

2.1 Hydration of Cement
When water is added to portland cement, the basic compounds present are transformed to new compounds by chemical reactions [Eq. (5.1)].


Two calcium silicates, which constitute about 75% of portland cement by weight, react with the water to produce two new compounds: tobermorite gel, which is not crystalline, and calcium hydroxide, which is crystalline. In fully hydrated portland cement paste, the calcium hydroxide accounts for 25% of the weight and the tobermorite gel makes up about 50%. The third and fourth
reactions in Eq. (5.1) show how the other two major compounds in portland cement combine with
water to form reaction products. The final reaction involves gypsum, the compound added to portland cement during grinding of the clinker to control set.
Each product of the hydration reaction plays a role in the mechanical behavior of the hardened paste. The most important of these, by far, is the tobermorite gel, which is the main cementing component of cement paste. This gel has a composition and structure similar to those of a naturally occurring mineral, called tobermorite, named for the area where it was discovered, Tobermory in Scotland. The gel is an extremely finely divided substance with a coherent structure.
The average diameter of a grain of portland cement as ground from the clinker is about 10 mm. The particles of the hydration product, tobermorite gel, are on the order of a thousandth of that size. Particles of such small size can be observed only by using the magnification available in an electron microscope. The enormous surface area of the gel (about 3 million cm2/g) results in attractive forces between particles since atoms on each surface are attempting to complete their unsaturated bonds by adsorption. These forces cause particles of tobermorite gel to adhere to each other and to other particles introduced into the cement paste. Thus, tobermorite gel forms the heart of hardened cement paste and concrete in that it cements everything together.

2.2 Effects of Portland Cement Compounds
Each of the four major compounds of portland cement contributes to the behavior of the cement as it proceeds from the plastic to the hardened state after hydration. Knowledge of the behavior of each major compound upon hydration permits the amounts of each to be adjusted during manufacture to produce desired properties in the cement.
Tricalcium silicate (C3S) is primarily responsible for the high early strength of hydrated portland cement. It undergoes initial and final set within a few hours. The reaction of C3S with water gives off a large quantity of heat (heat of hydration). The rate of hardening of cement paste is directly related to the heat of hydration; the faster the set, the greater the exotherm. Hydrated C3S compound attains most of its strength in 7 days.
Dicalcium silicate (C2S) is found in three different forms, designated alpha, beta, and gamma. Since the alpha phase is unstable at room temperature and the gamma phase shows no hardening when hydrated, only the beta phase is important in portland cement.
Beta C2S takes several days to set. It is primarily responsible for the later-developing strength of
portland cement paste. Since the hydration reaction proceeds slowly, the heat of hydration is low. The beta C2S compound in portland cement generally produces little strength until after 28 days, but the final strength of this compound is equivalent to that of the C3S.
Tricalcium aluminate (C3A) exhibits an instantaneous or flash set when hydrated. It is primarily responsible for the initial set of portland cement and gives off large amounts of heat upon hydration. The gypsum added to the portland cement during grinding in the manufacturing process combines with the C3A to control the time to set. The C3A compound shows little strength increase after 1 day. Although hydrated C3A alone develops a very low strength, its presence in hydrated portland cement produces more desirable effects. An increased amount of C3A in portland cement results in faster sets and also decreases the resistance of the final product to sulfate attack.
Tetracalcium aluminoferrite (C4AF), is similar to C3A in that it hydrates rapidly and develops only low strength. Unlike C3A, however, it does not exhibit a flash set. In addition to composition, speed of hydration is affected by fineness of grinding, amount of water added, and temperatures of the constituents at the time of mixing. To achieve faster hydration, cements are ground finer. Increased initial temperature and the presence of a sufficient amount of water also speed the reaction rate.

2.3 Specifications for Portland Cements
Portland cements are normally made in five types, the properties of these types being standardized on the basis of the ASTM Standard Specification for Portland Cement (C150). Distinction between the types is based on both chemical and physical requirements. Some requirements, extracted from ASTM C150, are shown in Table 5.1. Most cements exceed the strength requirements of the specification by a comfortable margin.

Type I, general-purpose cement, is the one commonly used for structural purposes when the special properties specified for the other four types of cement are not required.
Type II, modified general-purpose cement, is used where a moderate exposure to sulfate attack is anticipated or a moderate heat of hydration is required. These characteristics are attained by placing limitations on the C3A and C3S content of the cement. Type II cement gains strength a little more slowly than Type I but ultimately reaches equal strength. Type II cement, when optional
chemical requirements, as indicated in Table 5.2, are met, may be used as a low-alkali cement where alkali-reactive aggregates are present in concrete.



Type III, high-early-strength cement, is designed for use when early strength is needed in a particular construction situation. Concrete made with Type III cement develops in 7 days the same strength that it takes 28 days to develop in concretes made with Types I or II cement. This
high early strength is achieved by increasing the C3S and C3A content of the cement and by finer
grinding. No minimum is placed upon the fineness by specification, but a practical limit occurs when the particles are so small that minute amounts of moisture will prehydrate the cement during handling and storage. Since it has high heat evolution, Type III cement should not be used in large masses. With 15% C3A, it has poor sulfate resistance. The C3A content may be limited to 8% to obtain moderate sulfate resistance or to 5% when high sulfate resistance is required.
Type IV, low-heat-of-hydration cement, has been developed for mass-concrete applications. If Type I cement is used in large masses that cannot lose heat by radiation, it liberates enough heat during hydration to raise the temperature of the concrete as much as 50 or 60 8F. This results in a relatively large increase in dimensions while the concrete is still plastic, and later differential cooling after hardening causes shrinkage cracks to develop. Low heat of hydration in Type IV cement is achieved by limiting the compounds that make the greatest contribution to heat of hydration, C3A and C3S. Since these compounds also produce the early strength of cement paste, their limitation results in a paste that gains strength relatively slowly. The heat of hydration of Type IV cement usually is about 80% of that of Type II, 65% of that of Type I, and 55% of that of Type III after the first week of hydration. The percentages are slightly higher after about 1 year.
Type V, sulfate-resisting cement, is specified where there is extensive exposure to sulfates. Typical applications include hydraulic structures exposed to water with high alkali content and structures subjected to seawater exposure. The sulfate resistance of Type V cement is achieved by reducing the C3A content to a minimum since that compound is most susceptible to sulfate attack.
Types IV and V are specialty cements not normally carried in dealer’s stocks. They are usually obtainable for use on a large project if advance arrangements are made with a cement manufacturer. Air-entraining portland cements (ASTM C226) are available for the manufacture of concrete for exposure to severe frost action. These cements are available in Types I, II, and III but not in Types IV and V. When an air-entraining agent has been added to the cement by the manufacturer, the cement is designated Type IA, IIA, or IIIA.

3. Other Types of Hydraulic Cements
Although portland cements (Art. 2) are the most common modern hydraulic cements, several other kinds are in everyday use.

Kamis, 17 Januari 2008

Kronologis Permasalahan Pondasi Tiang Pancang

Kronologis Permasalahan Pondasi Tiang Pancang
Proyek Sentul City Convention Center (GSG Sentul)

Pada saat dilakukan pekerjaan galian area STP & GWT minggu ke 2 September 2006 sampai dengan minggu ke 2 Oktober 2006 ditemukan beberapa kondisi sambungan tiang yang “diragukan”.
Plat baja sambunganTiang
Baji dilas cantum ke plat sehingga mudah lepas
Perkuatan dengan besi dilas dilakukan TATA
untuk mencegah tiang jatuh saat penggalian
Baji tidak dipasang
Photo 1. Sambungan Tiang Pancang di Proyek GSG Sentul ( Photo dok 3 Oktober 2006)
16 Sept 2006
18 Sept 2006
21 Sept 2006
Photo 2 & 3. Tiang Pancang A26 Patah di Proyek GSG Sentul ( Photo dok 16, 18 & 21 September 2006)

Photo 4. Sambungan Tiang Pancang Baji hanya dilas cantum sehingga mudah lepas (Photo Dok 4 Okt 06 )
Serta banyak kami temui baji hanya di las cantum ke pelat ( pinggir baji tidak dilas full sesuai standard JHS- photo terlampir). Sambungan standard JHS seperti yang dijelaskan oleh Bp. Siswo Wicaksono (JHS) pada meeting 1 Desember 2006 adalah bahwa area pinggir baji harus dilas full.
Selain masalah kualitas sambungan tiang pancang, dilapangan Kami juga mengidentifikasi banyak tiang yang mengalami pergeseran dari rencana (Tabel pergeseran terlampir), masalah ini Kami tanyakan melalui surat no. 0011/ TATA-GSGS/ IX/ 2006 tanggal 29 September 2006.
Permasalahan pondasi tiang pancang ini Kami tanyakan kepada pihak owner & konsultan melalui RFI maupun pada saat meeting ( Terlampir RFI No. 010/ TATA-GSGS/ RFI/ IX/ 2006, MOM 25 September 2006, MOM 5 Oktober 2006, MOM 19 Oktober 2006, MOM 31 Oktober 2006 – 1 November 2006).
Surat TATA No. 0014/ TATA-GSGS/ X/ 2006 tanggal 3 Oktober 2006 mempertanyakan kondisi tiang pancang GSG mengacu ke permasalahan kualitas tiang pancang area STP seperti patahnya tiang pancang & lemahnya kondisi sambungan tiang pancang . Menyarankan perlu diadakannya suatu tes untuk meyakinkan kondisi sambungan tiang pancang agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.
Pada tanggal 14 November 2006 telah dikirim surat no. 3424/ TATA-DSN/ XI/ 2006 dengan lampiran review Bp. Prof. Paulus P. Rahardjo, Ph.D ( Konsultan Ahli Geoteknik Utama ) untuk menjadi bahan masukan bagi owner & konsultan agar tidak terjadi permasalahan yang diakibatkan kondisi pondasi dikemudian hari. Ditegaskan pula dalam surat tersebut bahwa tindakan lebih lanjut diserahkan kepada pihak owner & TATA siap bekerjasama dalam penyelesaian masalah tersebut.
Pada meeting koordinasi 16 November 2006 di proyek sentul diputuskan bahwa permasalahan tiang pancang GSG akan didiskusikan lebih lanjut oleh PM GBI dengan Bp. Paulus P. Rahardjo. Untuk kepentingan evaluasi, data-data yang dibutuhkan diminta PM GBI untuk dikirim kepada Bp. Paulus P. Rahardjo. Menindaklanjuti hasil meeting tersebut PT. Prosys Engineers Internasional telah mengeluarkan surat pemberhentian sementara kegiatan pekerjaan pile cap, beam, pelat gd. Serbaguna Bukit Sentul sambil menunggu keputusan lebih lanjut ( Surat PEI No. 030/ PEI-PRY/ SENTUL/XI/06 tertanggal 17 November 2006).
Dari hasil diskusi diputuskan untuk dilakukan Pile Integrity Testing terhadap 11 titik tiang pancang. Dari hasil PIT tes oleh TARUMANEGARA bumiyasa diketahui 6 tiang dikelompokkan normal sedangkan 5 titik tiang dikategorikan tidak normal karena hanya segmen tiang bagian atas saja yang terdeteksi.
Dari hasil PIT ini ditambah data-data yang lain yang sudah dikirimkan, Bp. Prof. Paulus P. Rahardjo Ph.D. melakukan evaluasi. Pada tanggal 8 Desember 2006 telah dikirimkan perkiraan volume pekerjaan perbaikan pondasi GSG dari BP. Paulus P. rahardjo kepada PM GBI, Bp. Gunawan Wongso ( Surat GEC No. 01/ 06086/ 06-12/ 002/FX). Surat tersebut memuat asumsi perbaikan memerlukan 292 buah tiang 40x40cm panjang 18 m, pelebaran pile cap & perbaikan sirtu 6110 m3. Dinformasikan pula berdasarkan perhitungan defleksi serta gaya-gaya akibat lateral diketahui bahwa momen & geser masih signifikan sampai kedalaman 7m sehingga apabila ada sambungan yang kurang baik diatas kedalaman tersebut akan sangat berbahaya, serta informasi bahwa daya dukung lateral dapat ditingkatkan dengan perbaikan sirtu.
Pada meeting koordinasi tanggal 14 Desember 2006 diinstruksikan oleh PM GBI agar dilaksanakan test lateral untuk titik tiang no. 11,437, 516, 62, 486 & 214 dengan beban 2x5 ton untuk tiang 40x40 serta 2x4 ton untuk tiang 35x35 arah X & Y secara bergantian. Lateral test dilaksanakan oleh PT. Palumas Sejati dengan hasil berdasarkan interpretasi & kesimpulan dari PT. Palumas 5 titik dikategorikan tidak mampu menahan beban yang direncanakan sedangkan 1 titik yaitu tiang 214 P ultimate Arah X=9.4ton & P ultimate Arah Y =10.3ton.
Hasil lateral tes ini telah diinterpretasi oleh Bp. Prof. Paulus P. Rahardjo Ph.D. melalui surat no. 02/ 06086/ 07-01/ 005/ FX tertanggal 3 Januari 2007 & surat no. 03/ 06086/ 07-01/ 005/ FX tertanggal 11 Januari 2007, dengan hasil:
Tiang 437 arah Y terindikasi patah karena defleksi residual selalu besar yang memperkuat hasil PIT dimana hanya segmen tiang atas saja yang terdeteksi.
Tiang 516 daya dukungnya jauh lebih kecil dari yang disyaratkan, kurva load-displacement arah X juga menunjukan kondisi tiang patah, defleksi residual selalu besar.
Tiang 214 & 11 daya dukungnya masih dapat diterima, namun kemiringan tiang 214 adalah 7cm/200cm, dimana tiang dengan kemiringan seperti ini biasanya sudah tidak dapat menahan beban aksial.
Tiang 62 & 486 menunjukan daya dukung lateralnya tidak memenuhi.
Surat tersebut juga mempertanyakan beban-beban yang meragukan serta pile driving record yang tidak jelas.
Pada meeting koordinasi 11 Januari 2007 diminta kepada TATA untuk menggali tiang pancang 516 untuk melihat kondisi sambungannya & agar diinformasikan kepada Bp. Paulus mengenai kondisi sambungannya.
SISI UTARA SISI TIMUR
SISI SELATAN SISI BARAT
PHOTO DOK SAMBUNGAN TIANG 516 (15 JANUARI 2007)


SISI UTARA SISI TIMUR BETON PECAH SISI TIMUR
PHOTO DOK SAMBUNGAN TIANG 516 SETELAH DIBERSIHKAN (18 JANUARI 2007)

SISI SELATAN SISI BARAT
PHOTO DOK SAMBUNGAN TIANG 516 SETELAH DIBERSIHKAN (18 JANUARI 2007)
BETON RETAK SISI SELATAN BETON RETAK & PECAH SISI UTARA
PHOTO DOK BETON TIANG 516 PECAH & RETAK SETELAH DIBERSIHKAN (18 JANUARI 2007)

PHOTO DOK BETON TIANG 516 PECAH SETELAH DIBERSIHKAN (25 JANUARI 2007)

Berdasarkan evaluasi hasil PIT, lateral tes, data-data pondasi tiang pancang & photo kondisi sambungan tiang 516 yang sudah digali, Bp. Prof. Paulus P. Rahardjo Ph.D. mengeluarkan metode perbaikan pondasi GSG Sentul dengan penambahan friction pile 18 m sebanyak 301 buah, luas pile cap termasuk desain lama 765m2 serta penambahan sirtu dibawah pile cap 765m3 (Detail perbaikan terlampir bersama surat GEC No. 04/ 06086/ 07-01/ 005/ FX. Usulan perbaikan ini dijelaskan oleh Bp. Prof. Paulus P. Rahardjo Ph.D. pada meeting tanggal 17 Januari 2007. Solusi perbaikan didasarkan pada :
· Keraguan sambungan tiang berdasarkan fakta bahwa penyambungan tiang dilakukan secara sangat ceroboh. Dokumentasi beberapa tiang di area STP & GWT serta sambungan tiang 516 yang diperkuat dengan 5 dari 11 tiang dikategorikan tidak normal pada pengujian PIT menjadi dasar pertimbangan. Tidak adanya data quality control tentang kualitas penyambungan tiang mengakibatkan keraguan bahwa tidak ada jaminan kondisi tiang-tiang GSG lainnya dalam keadaan baik.
· Dari hasil tes lateral diketahui bahwa sebagian besar daya dukung lateral tiang tidak sesuai dengan yang direncanakan.
· Dijelaskan pula bahwa kondisi tanah bagian atas adalah lunak, berdasarkan data penyelidikan tanah oleh PT. Testana Indoteknika diketahui bahwa pada kedalaman 4.5 – 10m merupakan lempung kelanauan NSPT = 2 – 5 ( Soft to medium consistency) .
· Dari hasil penyelidikan tanah yang diperkuat data pile driving record juga diketahui bahwa pada kedalaman yang bervariasi antara 14.5 m - 20m banyak ditemui lensa yang bersipat tidak menerus yang diperkirakan berupa clayshale. Sehingga pada saat segmen tiang baru disambung & masih berada pada daerah tanah lunak, tiang harus menerima tumbukan yang banyak untuk menembus lapisan lensa tersebut. Dengan ditambah pengaruh kelenturan tiang panjang 18 m yang tanpa penahan, maka apabila system sambungannya kurang benar, dikhawatirkan sambungan tiang akan lepas karena beban tumbukan & rebound serta beban lentur tiang. Hal ini juga dibenarkan oleh PT. Palumas selaku pelaksana pemancangan.

Dari data driving log diketahui sesaat setelah penyambungan, cukup banyak tiang yang harus menerima tumbukan cukup banyak untuk menembus lapisan lensa tidak menerus.
Kelenturan tiang panjang 18 m pada saat dipancang juga akan cukup mempengaruhi sambungan tiang.
Gambar 1. Posisi pemancangan pada saat penyambungan tiang

Untuk mereduce biaya perbaikan, dijelaskan pula bahwa safety factor yang diambil hanya 1,5 serta penambahan sirtu tidak selebar semula, akan tetapi cukup dibawah pile cap.
Pada meeting koordinasi 8 Februari 2007 PM GBI menginformasikan bahwa keputusan perkuatan GSG adalah :
· Dibawah pile cap untuk tiang pancang ukuran 35x35 cm (type P1) dilakukan perkuatan dengan sirtu ukuran 1mx1m dengan dalam 1m.
· Pondasi sekeliling perimeter tumpuan (tumpuan struktur baja) dilakukan perkuatan dengan sirtu dibawah pile cap, seukuran pile cap dengan kedalaman 1m.
· Untuk pondasi yang sudah terpasang dilanjutkan tanpa perkuatan.
Pada hari Senin 12 Februari 2007 PT. Prosys menginstruksikan untuk melakukan pembersihan karat besi yang sudah terpasang. Ditegaskan pula bahwa area GSG yang sudah terpasang pembesian tidak dilakukan perkuatan ( Surat No. 049/ PEI-PRY/ SENTUL/ II/ 07).
Pada tanggal 13 Februari 2007 PM GBI menginstruksikan PT. Prosys (Cc. PT. TATA) untuk mengambil langkah-langkah sesuai rekomendasi konsultan struktur. Terlampir surat konsultan struktur No. 007/ PSC/ SCC/ 01/ 2007 tertanggal 15 Februari 2007 tentang evaluasi pondasi GSG dimana disebutkan bahwa kohesi tanah dengan N-SPT 1-2 adalah 1 t/m2, sedangkan adhesi antara beton & tanah adalah 0.50-0.75 x kohesi, sehingga plat dasar dapat memberikan tahanan geser sebesar 0.6 t/ m2 x luas efektif bangunan. (Pertanyaan : Antara beton dengan tanah kohesif terdapat lapisan pasir urug & lantai kerja, apakah adhesi antara beton & tanah kohesif masih efektif ? Bagaimana kalau permukaan tanah dibawahnya turun ? ). Ditegaskan pula dalam surat tersebut apabila tanah dasar plat turun maka yang membantu tahanan lateral adalah tie beam 0.6 t/m2 x 10.000 m2 = 6000 ton dibagi jumlah tiang maka tiap tiang mendapat tambahan tahanan lateral = 10 ton, apabila diasumsikan minimal efektif 30% (asumsi terjelek) maka ada tambahan tahanan lateral 3 ton per tiang. ( Pertanyaan : luas 10.000 m2 adalah luas total pinggir tie beam arah X & Y, sedangkan yang menahan gaya dari 1 arah adalah hanya ¼ x 10.000 m2 = 2.500 m2, sehingga apabila luasan efektif yang menahan hanya diasumsikan 30% & tahanan geser 0.6 t/m2, maka tambahan tahanan lateral akibat tie beam adalah 0.3x 0.6t/ m2 x 2.500 m2 = 450 ton sehingga masing masing tiang mendapat tambahan lateral 0.8182 ton per tiang ). Dalam surat tersebut juga disebutkan bahwa tiang 40x40 cm dapat menahan beban 5 ton lateral per tiang (Pertanyaan : hasil tes lateral menunjukan bahwa pergerakan ¼ inchi untuk tiang 62 berkisar 2.5 – 4 ton, tiang 11 pada 4.3 – 6.5 ton serta tiang 214 (kemiringan 7cm/ 200cm) daya dukungnya 5.6 – 8.5 ton). Berdasarkan evaluasi tersebut pada surat tersebut ditegaskan bahwa bangunan GSG cukup kaku menahan lateral sehingga à Aman. Jadi yang sudah terpasang dapat dilanjutkan, sedangkan untuk yang belum tiang-tiang 35x35 cm diberikan perkuatan sirtu 1mx1mx1m dan tiang-tiang yang diluar (ring terluar).
Pada meeting koordinasi 15 Februari 2007, diputuskan perkuatan dilakukan hanya dibagian ring luar saja dengan perkuatan sirtu 1.7 m x 1.7 m kedalaman 1 m, dengan pertimbangan SCC ada jaminan dari palumas ke owner bahwa kondisi sambungan tiang selain tiang 516 adalah baik & final set sudah sesuai. Kondisi tiang 516 juga tidak patah walaupun sambungannya tidak sesuai standard, juga bentang bangunan lebar dimana di beberapa Negara untuk bangunan yang bentang lebar & tidak terlalu tinggi, beban lateral tidak pernah diperhitungkan. ( Comment : hasil lateral tes dimana 4 dari 6 titik tiang yang dites daya dukungnya tidak memenuhi yang direncanakan tidak dijadikan bahan pertimbangan. Begitupula photo dokumentasi sambungan di area STP & GWT yang bermasalah serta fakta sambungan tiang 516 yang dilakukan secara ceroboh juga tidak menjadi dasar pertimbangan ).

Minggu, 06 Januari 2008

Intelijen Asing Incar Pelajar Indonesia

MAGELANG (SINDO) – Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan, ada sinyalemen intelijen asing sengaja mengincar pelajar Indonesia untuk dijadikan kader.
Menurut KSAD, saat ini intelijen asing lebih memilih pelajar Indonesia untuk dididik dan dilatih sebagai agen mereka.” Saat ini,banyak agen asing yang mengincar kalian dengan iming-iming pekerjaan, gaji tinggi, untuk mau dididik dan dilatih sebagai agen,” tegas Djoko dalam pengarahannya kepada siswa SMA Taruna Nusantara di Magelang,kemarin. KSAD mengingatkan, sebagai siswa dan pelajar Indonesia sudah selayaknya jika menerapkan seluruh hasil pendidikan yang diterima untuk kepentingan dan kemajuan bangsa serta negara di masa depan,terutama dalam menghadapi era globalisasi yang semakin kompleks.
” Jangan apa yang telah di dapat selama pendidikan, malah dibawa ke luar negeri, cari pasangan hidup di luar negeri. Kalian siswa Taruna Nusantara, yang artinya siswa Indonesia, sudah seharusnya menerapkan apa yang didapat untuk kepentingan bangsa Indonesia,bukan untuk negara asing, seperti di Singapura,”tegas Djoko. Terkait itu, lanjut dia, perlu ada upaya membangun kembali militansi sebagai bangsa Indonesia agar bisa bertahan di era globalisasi yang penuh tantangan.
Militansi sebagai bangsa Indonesia, jelas dia, harus dihidupkan dan disesuaikan dengan jati diri bangsa.KSAD mengatakan, komponen bangsa Indonesia memiliki potensi sebagai bangsa yang besar dan mampu bersaing dengan negara lain.”Namun,untuk dapat menjadi besar dan mampu bersaing, perlu ada militansi dan nasionalisme yang kuat sebagai akar dari persatuan dan kesatuan bangsa,”ujarnya. Menanggapi sinyalemen KSAD itu,Wakil Ketua Komisi I DPR Sidarta Danusoebroto mengatakan, sinyalemen tersebut perlu dibuktikan terlebih dulu.
Sebab, jangan sampai hal ini membuat khawatir pelajar dan mahasiswa Indonesia di luar negeri.Namun demikian,dia juga menyatakan,sinyalemen tersebut tetap perlu diwaspadai sebagai bentuk peringatan bagi Indonesia.”Perlu bukti dan fakta yang memadai karena kita tentu tidak ingin ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Bahwa ini perlu diwaspadai, ya harus itu,” tegasnya kepada SINDO, tadi malam. Tetapi, lanjut Sidarta, dia tidak ingin persoalan tersebut digunakan sebagai tolak ukur umum bahwa itu terjadi di setiap negara. Lagi pula, ujar dia, pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri sudah memiliki penilaian dan pandangan sendiri terhadap apa yang dilakukan. ”Mereka sudah dewasa. Jangan sampai ini jadi menciutkan mereka untuk belajar di luar,” jelasnya. (amril amarullah/CR04)