PROYEK SENTUL CITY CONVENTION CENTER
“ BERJUANG DI PELOSOK kampung “
Proyek Sentul City Convention Center terletak di Jl. Raya Sentul, Desa Cipambuan Kecamatan Babakan Madang, Bogor. Lokasi proyek sebenarnya merupakan lahan Sentul City dan merupakan proyek kerjasama Sentul City dengan Yayasan Kasih Bagi Bangsa. Tim Konsultan yang terlibat pada proyek ini adalah Perencana Struktur PT. Susanto Ciptajaya Corp. , Perencana Arsitektur PT. Duta Cermat Mandiri, Perencana ME Team Consultant, dengan konsultan QS PT. Rekagriya Menarabuana & konsultan pengawas PT. Prosys Engineer International.
Bangunan utama terdiri dari 5 lantai dengan luas bangunan 26.186 m2 akan berfungsi sebagai convention center dengan konsep modern minimalis, bangunan yang timbul dari permukaan tanah dengan di kelilingi oleh area hijau rumput dan bamboo jepang , tampak dari bangunan ini mayoritas berwarna abu-abu dari batu purwakarta 50x300mm dan random dengan stainless steel, di mulai dari elevasi +10.75 m, sampai di elevasi + 23.75 m
View point dari bangunan ini adalah canopy baja yang di lapis oleh alumunium composite dengan kaca laminated di area entrance baik depan maupun belakang. Komposisi warna yang di timbulkan dari luar adalah abu-abu dan hijau beda hal nya dengan area interior, yang di dominasi oleh warna kontras alam seperti hitam, putih, cream, orange atau special color.
Pada bagian perimeter bangunan luar di lapis dengan jendela dan pintu alumunium dengan spesifikasi kaca sun-energy yang dapat mereduse panas matahari, dan jendela dan pintu bagian dalam menggunakan bahan kayu nyatoh dan kaca clear
Interior gedung sebagian besar merupakan area tribun dengan kursi – kursi dan lantai yang di lapisi oleh karpet sebagai centre area adalah panggung seperti sebuah stadion dengan kapasitas sampai dengan 10.000 orang. Bangunan ini akan dilengkapi dengan acoustic dengan spesifikasi sebuah convention di pergunakan pada area plafond & dinding sehingga akan mereduse suara di area dalam dan menjaga agar suara tidak merambat keluar.
Bangunan ini akan berdiri di atas lahan seluas 64.000 m2 dengan 2/3 areanya akan menjadi area jalan & parkir. Bangunan utama ini akan dilengkapi dengan sebuah bangunan tower 12 lantai yang akan berfungsi sebagai gedung pengelola atau kantor untuk tower merupakan tahap ke-2 dalam pelaksanaannya
Bangunan utama & tower akan dihubungkan oleh sebuah tunnel bawah tanah yang berfungsi sebagai jalur main distribusi Mekanikal Elektrikal yang menghubungkan antara bangunan GSG-tower, utility, GWT dan STP
Bentuk bangunan yang elips dengan as-as kolom yang berada pada garis varian lengkung cukup menyulitkan dalam proses pengukuran awal. Ketepatan & ketelitian penentuan koordinat- koordinat as oleh surveyor menjadi sangat penting.
Dengan pertimbangan bangunan utama adalah bangunan tidak tinggi namun memiliki bentang luas, maka diputuskan proses konstruksinya tidak menggunakan Tower Crane, tetapi dengan memakai Mobile Crane milik PT. TATA sendiri, yang juga merupakan bentuk investasi PT. Tatamulia Nusantara Indah.
Karena struktur atap bangunan utama merupakan struktur baja dengan bentang panjang yang akan dikerjakan by other, maka area tribun & panggung dengan luas + 8000m2 pengerjaannya harus dipending menunggu pekerjaan konstruksi atap baja selesai. Hanya struktur area perimeter bangunan yang akan menjadi dudukan atap baja & trap taman miring serta bangunan fasilitas yang dapat dikerjakan terlebih dahulu.
Faktor cuaca daerah sentul yang sering hujan cukup merepotkan terutama pada saat pengecoran, intensitas petir & badai di area ini pun cukup tinggi sehingga membutuhkan penangkal petir cukup banyak & tingkat kehati-hatian yang tinggi. Ditambah lagi jenis tanah yang sangat lunak (soft-clay) yang apabila terkena air hujan akan sangat sulit untuk dilewati.
Pada akhir tahun 2006 ini, pekerjaan yang sudah dikerjakan baru bangunan fasilitas ( Utilitas, GWT & STP ) dan saluran eksternal, karena per 17 November 2006 pekerjaan struktur bangunan utama dipending yang diakibatkan permasalahan pondasi tiang pancang yang dikerjakan by other. Selain pergeseran posisi tiang pancang yang sudah ditindaklanjuti dengan join survey, permasalahan utama adalah system sambungan antar tiang yang tidak sesuai standard yang kita temui di lapangan yang mengakibatkan banyak sambungan tiang lepas pada saat digali.
Berdasarkan prinsip dan komitmen PT. TATA yaitu untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan maka pihak TATA turut mempertanyakan dan ikut peduli terhadap pekerjaan tiang pancang ini, yang sebenarnya di luar scope PT. TATA. Namun agar tidak menimbulkan resiko di kemudian hari maka dengan pertimbangan kehati-hatian itulah PT. Tatamulia Nusantara Indahikut membantu di dalam memberikan analisa & pertimbangan mengenai kualitas sambungan tiang pancang tersebut. Karena banyak sambungan berada pada kedalaman < 9m dimana pada area tersebut merupakan lapisan tanah sangat lunak, bahkan cukup banyak juga berada di kedalaman < 7 m dimana gaya geser & momen masih signifikan. Permasalahan tersebut atas advice dari konsultan tanah dan pondasi, Bapak Prof. Paulus P. Rahardjo Phd. ,sudah ditindaklanjuti dengan tes PIT ( Pile Integrity Testing) yang kemudian untuk tiang yang terindikasi bermasalah ditindaklanjuti lebih lanjut dengan lateral loading test.
Sampai dengan akhir tahun 2006 ini Kami masih menunggu hasil evaluasi dari pihak yang berkompeten, yang tentunya solusinya akan menjadi dasar untuk re-schedule proyek ini. Namun tidak berarti proyek ini tanpa kegiatan, karena walaupun hanya ditemani camilan “ singkong rebus “ setiap hari, pada saat ini Kami masih tetap bersemangat menyelesaikan pekerjaan bangunan fasilitas pendukung , infrastruktur luar & proses engineering. Sesuai dengan yang selalu Kami tanamkan pada seluruh tim GSG Sentul apa yang Kami terima pada saat Raker TATA 2006, terutama pada saat Mr. Motivator meneriakkan bahwa “ Orang-orang yang luar biasa menjadikan beban sebagai target yang menggairahkan dan Hidup adalah proses perjuangan untuk meraih keberhasilan ”. Dengan berbekal motivasi itulah, Kami tim GSG Sentul berjuang di tempat nan jauh dari semerbak keramaian kota. Namun dengan semangat tinggi untuk menyelesaikan proyek GSG Sentul dengan tetap mengobarkan slogan TATA , Together we improve our quality , TATA…TATA…TATA…yes. ( Project Team GSG Sentul , “ di antara lautan pohon singkong Kami Mengabdi “)
Selasa, 20 Januari 2009
Senin, 19 Januari 2009
BABY WALKER TIDAK MEMBUAT BAYI CEPAT BERJALAN
BABY WALKER TIDAK MEMBUAT BAYI CEPAT BERJALAN
S elain rentan kecelakaan, penggunaan baby walker juga diduga dapat mengakibatkan kelainan kaki.
Berikut adalah petikan sebuah e-mail dari orang tua Indonesia yang tinggal di Australia: Di sini baby walker sangat tidak direkomendasi penggunaannya karena banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan yang tidak diawasi dengan ketat. Dengan tidak adanya rekomendasi tersebut, otomatis barang ini jadi langka. Kalaupun ada yang beli dan sampai terjadi kecelakaan, konsumen enggak bisa menyeret produsen ke pengadilan (ibaratnya sudah tahu bahayanya, kok masih dipakai.. yah salah sendiri). Lagi pula kalau si anak udah siap jalan, dia akan jalan kok... malah baby walker bikin anak menjadi malas untuk berjalan.....
Bunyi surat itu sangat pas mewakili kesadaran orang tua akan bahaya yang bisa ditimbulkan baby walker. Sayang, kesadaran orang tua di Indonesia akan keamanan baby walker yang kurang tampaknya masih minim. Nyatanya di sini baby walker masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih banyak dijual di pasaran. Padahal, seperti dijelaskan dr. Karel A.L. Staa. M.D., dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, kalau mau melirik kembali ke negara-negara barat, Amerika katakanlah, soal keamanan baby walker ini sudah menjadi ajang perdebatan seru sejak lama.
Sampai-sampai, desain "alat bantu" belajar jalan ini, tidak pernah sama dari tahun ke tahun dan diberi semacam masa "kedaluwarsa" oleh pihak pemerintahnya. Jika setelah diteliti, desainnya dianggap tidak cukup baik untuk bayi, anjuran pemakaiannya akan ditinjau kembali bahkan kalau perlu dihapuskan. Pada tahun 1997, umpamanya, desain baby walker pernah diubah menjadi lebih besar dari ukuran sebelumnya dengan maksud agar benda itu tidak bisa menerobos pintu rumah
Sayang, ukuran yang diubah tersebut tetap tidak dapat mencegah terjadinya kecelakaan lain. Oleh karena alasan inilah akhirnya produksi baby walker di negeri Paman Sam tersebut dihentikan. "Sementara desain baby walker yang beredar di Indonesia merupakan desain kuno yang sebenarnya sudah ditinggalkan di negara asalnya," ujar Karel. Akhirnya, kecelakaan pada bayi yang sudah dialami beberapa tahun lalu di Amerika Serikat sampai kini masih terjadi di Indonesia.
TERKESAN PRAKTIS
Lalu kenapa alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Karel karena baby walker secara sekilas terkesan praktis. Si kecil tinggal dimasukkan ke dalamnya, lalu ia pun bisa berjalan ke sana kemari dengan leluasa. Bagi bayi berusia 7-12 bulan yang sedang tidak bisa diam dan tengah melatih kemampuannya berjalan, baby walker merupakan penyelamat tenaga orang tua. Bukankah dengan begitu orang tua jadi tak perlu capek-capek menatih si kecil?
Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, baby walker tampak sebagai benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam baby walker-nya, ia bisa menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah orang tua berpikir, "Ah, kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Ini kan baik untuk persiapan fase berjalannya!" Namun, alasan penggunaan baby walker yang paling utama biasanya berkaitan dengan upaya mengatasi keinginannya bergerak ke sana kemari. Dengan bisa bergerak leluasa ia menjadi lebih tenang dan tidak bosan. Sementara bagi orang tua, ketenangan si bayi memberi kesempatan kepadanya untuk mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga tanpa harus mendampingi si kecil setiap saat.
RIBUAN KASUS
Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Serikat sekitar 14.000 kasus bayi masuk rumah sakit diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby walker. Antara lain karena si kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut rumah, komposisi roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka kurang kokoh, dan bentuknya yang membuat anak rentan jatuh.
Namanya juga bayi, tentu saja ia belum bisa mengenal situasi lingkungan; belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau lantai, benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang sering terjadi akibat penggunaan baby walker:
* Menggelinding di tangga
- kecelakaan ini kemungkinan besar mengakibatkan patah tulang dan luka serius pada kepala.
* Terkena benda panas
- ketika duduk dalam baby walker anak jadi bisa meraih benda-benda yang dapat membahayakan dirinya. Contohnya secangkir kopi panas di atas meja.
* Tenggelam
- tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan baby walker-nya) ke dalam kolam renang, bath tub, atau toilet lalu tercemplung.
* Meraih obyek berbahaya
- dengan baby walker, anak lebih mudah meraih obyek berbahaya seperti gunting, pisau, atau garpu yang tergeletak di atas meja misalnya.
* Terjepit
- ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi bisa terjepit dan terkilir. Tangannya juga bisa saja terjepit saat meraih celah daun pintu.
Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahwa mayoritas kecelakaan baby walker terjadi ketika orang tua atau pengasuh sedang mengawasi anaknya. Mengapa demikian? Karena kita seringkali kalah cepat dengan kecepatan bayi dalam baby walker yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1 detik. Untuk itulah baby walker sama sekali tidak aman untuk digunakan, meskipun di bawah pengawasan orang dewasa.
MENYEBABKAN KELAINAN KAKI
Karel masih menambahkan soal penggunaan baby walker yang dari sisi medis pun tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Soalnya, aktivitas motorik yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walker hanya melibatkan sebagian serabut motorik otot saja, yaitu otot-otot betis. Padahal untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar, fungsi otot paha dan otot pinggul juga perlu dilatih.
Kemampuan berjalan, lanjut Karel, merupakan salah satu keterampilan motorik kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar), yang umumnya harus sudah bisa dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi waktu 3 bulan. Bila proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat anak justru jadi lambat berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat stimulasi fisiknya maka perkembangannya pun semakin pesat. Bila dibarengi dengan asupan gizi yang seimbang, mungkin saja di usia 9-10 bulan bayi sudah bisa berjalan.
Jadi manfaat pemakaian baby walker tidak cukup membantu anak latihan berjalan. Di tempat berbeda Dra. Jacinta F. Rini, M.Si., dari e-psikologi.com, menambahkan, secara psikologis penggunaan baby walker memang tidak menguntungkan, "Secara psikologis baby walker akan membuat anak malas untuk belajar berjalan sendiri karena anak sudah keburu merasa enak bisa bergerak ke mana pun tanpa harus susah payah menjejakkan kakinya."
Penggunaan baby walker bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan kaki pada anak. Memang belum ada penelitian yang menunjang. Namun, kenyataan bahwa bayi duduk sambil mengangkang dalam baby walker¬nya diduga bisa menyebabkan kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah, banyak ahli menduga penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak berjalan seperti bebek alias agak mengangkang.
Terbiasa berjalan dengan baby walker juga bisa menimbulkan kelemahan otot-otot tungkai. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang akhirnya sering membuatnya trauma dan tidak mau mencoba melakukannya lagi sehingga kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat.
ALAMI LEBIH BAIK
Jadi menurut Karel, tinggalkan baby walker. Juga, ketimbang mencari-cari alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar si kecil diajak berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari otot kaki, lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan yang terbaik adalah yang alami. "Sangat baik anak belajar berjalan secara alami karena dapat melatih 100 persen serabut motorik otot. Mulai otot betis, paha, maupun pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih maka anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jadi secara medis lebih menguntungkan kalau kita pakai cara alami daripada cara penunjang." Meskipun si kecil harus jatuh bangun, anggaplah hal ini sebagai pelajaran dari pengalamannya sendiri.
Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kakinya agar lebih terkoordinasi. Tentu, lantainya pun harus bersih dari partikel atau benda yang dapat melukainya. Juga hindari lantai yang terlalu licin karena bisa membuatnya terpeleset yang mungkin saja membuat anak trauma dan takut dilatih berjalan.
TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK ANAK
S udah seharusnya, orang tua mengetahui tahap demi tahap proses perkembangan kemampuan fisik anak sehingga bila terjadi keterlambatan pertumbuhan kita bisa segera mendeteksinya. Berikut, perkembangan motorik kasar anak secara garis besar:
0 - 1,5 bulan: Sudah bisa mengangkat kepala sekitar 45 derajat.
1,5 - 3,5 bulan: Kemampuan mengangkat kepalanya meningkat sampai 90 derajat. Kemudian bila bayi didudukkan dengan disandarkan ke tubuh kita maka kepalanya harus sudah bisa tegak.
3,5 - 4,5 bulan: Sudah bisa mengangkat dadanya bila diposisikan tengkurap. Bayi pun sudah bisa melakukan tengkurap sendiri dan membolak-balik tubuhnya.
5 bulan: Bayi sudah dapat duduk dengan hanya ditopang punggungnya.
6 - 8 bulan: Sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan. Di usia ini pun kebanyakan bayi sudah mulai belajar merangkak. Namun, merangkak bukan merupakan tonggak perkembangan utama. Bila bayi tidak merangkak maka bukan suatu kelainan karena beberapa bayi yang tidak melaluinya terbukti mengalami perkembangan motorik yang normal.
7,5 - 10 bulan: Bayi sudah mulai berusaha belajar berdiri dengan berpegangan pada tepi meja atau kursi. Beberapa anak ada yang sudah mulai belajar berjalan dengan cara merambat maupun berjalan beberapa langkah.
12 - 15 bulan: Anak sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan.
Irfan Hasuki.
S elain rentan kecelakaan, penggunaan baby walker juga diduga dapat mengakibatkan kelainan kaki.
Berikut adalah petikan sebuah e-mail dari orang tua Indonesia yang tinggal di Australia: Di sini baby walker sangat tidak direkomendasi penggunaannya karena banyak kecelakaan terjadi akibat penggunaan yang tidak diawasi dengan ketat. Dengan tidak adanya rekomendasi tersebut, otomatis barang ini jadi langka. Kalaupun ada yang beli dan sampai terjadi kecelakaan, konsumen enggak bisa menyeret produsen ke pengadilan (ibaratnya sudah tahu bahayanya, kok masih dipakai.. yah salah sendiri). Lagi pula kalau si anak udah siap jalan, dia akan jalan kok... malah baby walker bikin anak menjadi malas untuk berjalan.....
Bunyi surat itu sangat pas mewakili kesadaran orang tua akan bahaya yang bisa ditimbulkan baby walker. Sayang, kesadaran orang tua di Indonesia akan keamanan baby walker yang kurang tampaknya masih minim. Nyatanya di sini baby walker masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih banyak dijual di pasaran. Padahal, seperti dijelaskan dr. Karel A.L. Staa. M.D., dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, kalau mau melirik kembali ke negara-negara barat, Amerika katakanlah, soal keamanan baby walker ini sudah menjadi ajang perdebatan seru sejak lama.
Sampai-sampai, desain "alat bantu" belajar jalan ini, tidak pernah sama dari tahun ke tahun dan diberi semacam masa "kedaluwarsa" oleh pihak pemerintahnya. Jika setelah diteliti, desainnya dianggap tidak cukup baik untuk bayi, anjuran pemakaiannya akan ditinjau kembali bahkan kalau perlu dihapuskan. Pada tahun 1997, umpamanya, desain baby walker pernah diubah menjadi lebih besar dari ukuran sebelumnya dengan maksud agar benda itu tidak bisa menerobos pintu rumah
Sayang, ukuran yang diubah tersebut tetap tidak dapat mencegah terjadinya kecelakaan lain. Oleh karena alasan inilah akhirnya produksi baby walker di negeri Paman Sam tersebut dihentikan. "Sementara desain baby walker yang beredar di Indonesia merupakan desain kuno yang sebenarnya sudah ditinggalkan di negara asalnya," ujar Karel. Akhirnya, kecelakaan pada bayi yang sudah dialami beberapa tahun lalu di Amerika Serikat sampai kini masih terjadi di Indonesia.
TERKESAN PRAKTIS
Lalu kenapa alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Karel karena baby walker secara sekilas terkesan praktis. Si kecil tinggal dimasukkan ke dalamnya, lalu ia pun bisa berjalan ke sana kemari dengan leluasa. Bagi bayi berusia 7-12 bulan yang sedang tidak bisa diam dan tengah melatih kemampuannya berjalan, baby walker merupakan penyelamat tenaga orang tua. Bukankah dengan begitu orang tua jadi tak perlu capek-capek menatih si kecil?
Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, baby walker tampak sebagai benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam baby walker-nya, ia bisa menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah orang tua berpikir, "Ah, kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Ini kan baik untuk persiapan fase berjalannya!" Namun, alasan penggunaan baby walker yang paling utama biasanya berkaitan dengan upaya mengatasi keinginannya bergerak ke sana kemari. Dengan bisa bergerak leluasa ia menjadi lebih tenang dan tidak bosan. Sementara bagi orang tua, ketenangan si bayi memberi kesempatan kepadanya untuk mengurus berbagai pekerjaan rumah tangga tanpa harus mendampingi si kecil setiap saat.
RIBUAN KASUS
Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Serikat sekitar 14.000 kasus bayi masuk rumah sakit diakibatkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby walker. Antara lain karena si kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut rumah, komposisi roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka kurang kokoh, dan bentuknya yang membuat anak rentan jatuh.
Namanya juga bayi, tentu saja ia belum bisa mengenal situasi lingkungan; belum bisa membedakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau lantai, benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang sering terjadi akibat penggunaan baby walker:
* Menggelinding di tangga
- kecelakaan ini kemungkinan besar mengakibatkan patah tulang dan luka serius pada kepala.
* Terkena benda panas
- ketika duduk dalam baby walker anak jadi bisa meraih benda-benda yang dapat membahayakan dirinya. Contohnya secangkir kopi panas di atas meja.
* Tenggelam
- tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan baby walker-nya) ke dalam kolam renang, bath tub, atau toilet lalu tercemplung.
* Meraih obyek berbahaya
- dengan baby walker, anak lebih mudah meraih obyek berbahaya seperti gunting, pisau, atau garpu yang tergeletak di atas meja misalnya.
* Terjepit
- ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi bisa terjepit dan terkilir. Tangannya juga bisa saja terjepit saat meraih celah daun pintu.
Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahwa mayoritas kecelakaan baby walker terjadi ketika orang tua atau pengasuh sedang mengawasi anaknya. Mengapa demikian? Karena kita seringkali kalah cepat dengan kecepatan bayi dalam baby walker yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1 detik. Untuk itulah baby walker sama sekali tidak aman untuk digunakan, meskipun di bawah pengawasan orang dewasa.
MENYEBABKAN KELAINAN KAKI
Karel masih menambahkan soal penggunaan baby walker yang dari sisi medis pun tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Soalnya, aktivitas motorik yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walker hanya melibatkan sebagian serabut motorik otot saja, yaitu otot-otot betis. Padahal untuk bisa berjalan dengan lancar dan benar, fungsi otot paha dan otot pinggul juga perlu dilatih.
Kemampuan berjalan, lanjut Karel, merupakan salah satu keterampilan motorik kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar), yang umumnya harus sudah bisa dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi waktu 3 bulan. Bila proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat anak justru jadi lambat berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat stimulasi fisiknya maka perkembangannya pun semakin pesat. Bila dibarengi dengan asupan gizi yang seimbang, mungkin saja di usia 9-10 bulan bayi sudah bisa berjalan.
Jadi manfaat pemakaian baby walker tidak cukup membantu anak latihan berjalan. Di tempat berbeda Dra. Jacinta F. Rini, M.Si., dari e-psikologi.com, menambahkan, secara psikologis penggunaan baby walker memang tidak menguntungkan, "Secara psikologis baby walker akan membuat anak malas untuk belajar berjalan sendiri karena anak sudah keburu merasa enak bisa bergerak ke mana pun tanpa harus susah payah menjejakkan kakinya."
Penggunaan baby walker bahkan dicurigai bisa mengakibatkan kelainan kaki pada anak. Memang belum ada penelitian yang menunjang. Namun, kenyataan bahwa bayi duduk sambil mengangkang dalam baby walker¬nya diduga bisa menyebabkan kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah, banyak ahli menduga penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak berjalan seperti bebek alias agak mengangkang.
Terbiasa berjalan dengan baby walker juga bisa menimbulkan kelemahan otot-otot tungkai. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang akhirnya sering membuatnya trauma dan tidak mau mencoba melakukannya lagi sehingga kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat.
ALAMI LEBIH BAIK
Jadi menurut Karel, tinggalkan baby walker. Juga, ketimbang mencari-cari alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar si kecil diajak berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari otot kaki, lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan yang terbaik adalah yang alami. "Sangat baik anak belajar berjalan secara alami karena dapat melatih 100 persen serabut motorik otot. Mulai otot betis, paha, maupun pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih maka anak bisa berjalan dengan lebih baik. Jadi secara medis lebih menguntungkan kalau kita pakai cara alami daripada cara penunjang." Meskipun si kecil harus jatuh bangun, anggaplah hal ini sebagai pelajaran dari pengalamannya sendiri.
Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kakinya agar lebih terkoordinasi. Tentu, lantainya pun harus bersih dari partikel atau benda yang dapat melukainya. Juga hindari lantai yang terlalu licin karena bisa membuatnya terpeleset yang mungkin saja membuat anak trauma dan takut dilatih berjalan.
TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN FISIK ANAK
S udah seharusnya, orang tua mengetahui tahap demi tahap proses perkembangan kemampuan fisik anak sehingga bila terjadi keterlambatan pertumbuhan kita bisa segera mendeteksinya. Berikut, perkembangan motorik kasar anak secara garis besar:
0 - 1,5 bulan: Sudah bisa mengangkat kepala sekitar 45 derajat.
1,5 - 3,5 bulan: Kemampuan mengangkat kepalanya meningkat sampai 90 derajat. Kemudian bila bayi didudukkan dengan disandarkan ke tubuh kita maka kepalanya harus sudah bisa tegak.
3,5 - 4,5 bulan: Sudah bisa mengangkat dadanya bila diposisikan tengkurap. Bayi pun sudah bisa melakukan tengkurap sendiri dan membolak-balik tubuhnya.
5 bulan: Bayi sudah dapat duduk dengan hanya ditopang punggungnya.
6 - 8 bulan: Sudah dapat duduk sendiri tanpa bantuan. Di usia ini pun kebanyakan bayi sudah mulai belajar merangkak. Namun, merangkak bukan merupakan tonggak perkembangan utama. Bila bayi tidak merangkak maka bukan suatu kelainan karena beberapa bayi yang tidak melaluinya terbukti mengalami perkembangan motorik yang normal.
7,5 - 10 bulan: Bayi sudah mulai berusaha belajar berdiri dengan berpegangan pada tepi meja atau kursi. Beberapa anak ada yang sudah mulai belajar berjalan dengan cara merambat maupun berjalan beberapa langkah.
12 - 15 bulan: Anak sudah bisa berjalan tanpa harus berpegangan.
Irfan Hasuki.
METODE DISMANTLING TOWER CRANE
1.0 REFERENSI
1.1. Gambar kerja assembling dan dismantling tower crane
1.2. Rencana Mutu Proyek
2.0 ALAT
2.1. Mobilitas tower crane
- Kendaraan Trailler
- Mobil crane/ telescopic
2.2. Kebutuhan Peralatan
- Palu 5 kg
- Tali tambang
- Safety belt
- Helm
- Sarung tangan
2.3. Kebutuhan perawatan Tower Crane
- Oli
- Grease
- Kanvas brake
- Kanvas seling
BAGIAN-BAGIAN TOWER CRANE
2.4. Counter Hoist
- Motor hoist
- Seiling hoist
- Gear box
- Control panel
- Panel travo
- Pin pengikat
- Railing
2.5. Cabin
- Bordes Cabin
- Cabin & Fan
- Baut pengikat
- Wipper
- Lampu
- Handle Operation Unit
2.6. Tower Head
- Tower head frame
- Bordes tower head
- Pully
- Winch service head
- Penangkal petir
- Lampu sinyal
2.7. Counter Jib
- Counter jib
- Railing
- Pin Pengikat
- Ballast
- As batu ballast
- Tie rod
- Pin tie rod
- Pully
2.8. Tower Head
- Jib
- Pin jib
- Motor trolly
- Trolly Car
- Hook
- Hoist selig trolly
- Tie Rod
BAGIAN-BAGIAN PENDUKUNG
2.9. Kabel Pendukung
- Kabel power (NYY - HY)
- Kabel penangkal petir
- Kabel lampu
- Spit grounding
2.10. Alat Pendukung
- Kunci ring 70”
- Kunci pas 70”
- Kunci Ring 65”
- Kunci ring 65”
- Grease injection pump
- Volt meter
- Ampere meter
- Motor oil limit
-
2.11. Consumable Material
- Oli
- Grease
- WD 40
2.12. Power Pendukung
- Genset
- Solar
- PLN
3.0 LANGKAH KERJA
3.1 PONDASI
Umumnya dikarenakan tanah keras biasa dijumpai pada kedalaman jauh di bawah permukaan tanah, maka pondasi Tower Crane memakai pondasi dalam (tiang pancang/ bored pile). Pada tabel (terlampir), telah disusun kekuatan tiang pancang/ bored pile yang diperlukan. Banyaknya dan ukuran tiang pancang/ bored pile dapat ditentukan dengan cara membandingkan kekuatan tiang (tabel) terhadap hasil rekomendasi laporan penyelidikan tanah per proyek.
3.2 PENEMPATAN TOWER CRANE
Acuan Penempatan Tower Crane meliputi
a. Radius Jangkau
Pemilihan radius jangkau dan jumlah Tower Crane yang diperlukan disesuaikan dengan luasnya proyek sehingga dapat menjangkau area loading/ unloading dan adanya overlapping dengan Tower Crane lainnya (apabila dibutuhkan lebih dari 1 Tower Crane).
b. Antisipasi Void Sementara
Untuk proyek perkantoran atau tower, Tower Crane sebaiknya diletakkan di luar bangunan. Demikian juga untuk bangunan dengan area yang luas (seperti mall) diusahakan agar penempatan Tower Crane di dalam bangunan seminimal mungkin untuk mempermudah proses dismantling. Penempatan Tower Crane di dalam bangunan harus memperhatikan struktur semua lantai agar void sementara tersebut tidak menghalangi pekerjaan lainnya (seperti balok prestress, ramp, bangunan utilitas).
c. Antisipasi Kemudahan Dismantling Tower Crane
Harus dipastikan agar pada saat dismantling Tower Crane, Mobile Crane dapat mencapai lokasi tersebut, posisi jib dan counter weight tidak terhalang oleh struktur bangunan pada saat penurunan dan terjangkau Mobile Crane.
3.3 ASSEMBLING TOWER CRANE
Assembling Tower Crane
a. Persiapan Alat Bantu dan Tools
Sebelum assembling dimulai, terlebih dahulu alat-alat dipersiapkan :
- Mobil Crane kapasitas sesuai kebutuhan
- Tolls (kunci-kunci)
b. Assembling Base Section
Base Section dipasang diatas anchor dan harus menghadap kearah yang sudah diperhitungkan sebelumnya, untuk memudahkan pada waktu jacking Tower Crane dan Dismantling Tower Crane.
c. Assembling Clambing Cage
Clambing Cage dipasang pada Base Section, pastikan bahwa clambing catch (cangkolan clambing) duduk pada tempatnya. Kemudian dilengkapi dengan pasang plat form dan hand reiling.
d. Assembling Slewing Table
Slewing Table dipasang diatas Base Section dan Clambing Cage, ada yang dengan sistem baut, ada yang dengan pen, tergantung dari type dan merk Tower Crane.
Pastikan bahwa setelah dipasang Slewing Table antara Base Section dan Clembing Cage simetris.
e. Assembling Tower Head
Tower Head (kuncung) dipasang diatas Tower Head, untuk Tower Head ini ada dua macam sistem, yaitu sistem baut dan pin (tergantung dari merk dan tipe alat).
f. Assembling Counter Jib
Sebelum dipasang, Counter Jib dilengkapi dulu dengan: Plat Form, Hand Railing, Tie Rod. Setelah bagian-bagian tersebut terpasang baru Counter Jib dipasang di Slewing Table dan Tower Head.
g. Assembling Jib
Element-element Jib disambung-sambung sampai pada ukuran tertentu (panjang jib sesuai dengan radius yang diperlukan). Antara element jib yang satu dengan yang lain disambung atau di connect dengan pin, kemudian dipasang Trolley. Tie Rod dipasang diatas jib disambung-sambung sesuai dengan panjangnya jib. Selanjutnya jib diangkat dengan alat Bantu (mobil crane) untuk dipasang dislewing table dan tower head dengan pin.
h. Assembling Counter Weight
Counter Weight dipasang satu persatu pada counter jib pada bagian belakang sampai pada jumlah yang sudah ditentukan.
i. Assembling Wire Rope (seling)
- Trolley Wire Rope
Dari drum wire rope (seling), seling ditarik melalui pulley kemudian di connect di trolley bagian depan (ujung yang kedepan). Untuk ujung yang ke belakang seling ditarik melalui pulley kemudian diconnect di trolley bagian belakang.
- Hoisting Wire Rope
Dari drum seling, seling ditarik melalui pulley-pulley pada trolley diteruskan ke pulley-pulley yang ada pada balok kemudian kembali ke pulley trolley yang lain diteruskan lagi sampai ke ujung jib lalu dipasang di free Twist Rope Fastener.
j. Assembling Electric System
- Electric System
Penyambungan kebel-kebel listrik harus dilakukan dengan penuh ketelitian sesuai dengan kode atau nomor yang ada pada ujung kabel. Pastikan rangkaian electric sudah sesuai dengan diagram eletrik pada buku manual. Dan semua komponen sudah diperiksa dengan alat: Multi tester dan Tang Ampere.
k. Jacking Tower Crane
Jacking Tower Crane mempergunakan hydraulic system yang digerakkan dengan motor listrik, dari pompa hydraulic ini tekanan dipindahkan ke cylinder hydraulic. Dari cylinder hydraulic inilah tenaga yang dipergunakan untuk mengangkat bagian dari tower crane, yaitu dari mulai slewing table, jib, counter jib, Counter weight dan tower head.
Sebelum dimulai jacking, tower crane dibebani utnuk mencari keseimbangan. Beban ini digantung pada jib dan jaraknya diatur. Pastikan antara jib dan counter jib sudah menjadi seimbang. Setelah yakin bahwa keseimbangan telah tercapai maka jacking dimulai tahap demi tahap sampai pada ketinggian satu element section.
Kemudian section dimasukkan ke dalam clambing cage untuk diconnect (disambung) dengan element yang sudah terpasang, dengan baut atau pin, karena ada yang mempergunakan baut ada pula yang mempergunakan pin pada sambungan tersebut (sesuai dengan type dan merk tower crane).
Setelah element section terpasang, slewing table dipasang ke element section yang baru terpasang. Maka selesailah jacking satu element section.
l. Frame Collar (Bracing Tower Crane)
Apabila Tower Crane sudah melampaui ketinggian dari free standing maka harus dipasang bracing. Frame Collar dipasang pada element section pada ketinggian tertentu kemudian dihubungkan ke bangunan. Dipasang sedemikian rupa agar dapat menahan gaya puntir atau moment puntir.
m. Pasang Penangkal Petir
Penangkal Petir dipasang sesuai dengan persyaratan: Ukuran kabel minimum 50 mm, Elektroda bawah harus sampai pada permukaan air tanah. Dan Elektroda yang diatas Tower Crane ukurannya 1 inch.
3.4 Test Beban
a. Penyetelan Pembatas Beban
Tower Crane dipakai untuk mengangkat beban sesuai dengan kapasitas terkecil. Kemudian trolley dijalankan ke depan sampai batas limit depan. Limit beban distel, sehingga apabila beban melebihi dari beban kapasitas terkecil maka pembatas beban akan bekerja.
b. Penyetelan Pembatas Moment
Tower Crane dipakai untuk mengangkat beban sesuai dengan kapasitas terkecil langsung dari ujung limit depan. Kemudian limit moment distel agar beban bisa terangkat. Setelah itu diturunkan kembali kemudian beban ditambah kira-kira 50 kg, dan pembatas moment harus bekerja (artinya beban tidak bisa terangkat).
c. Penyetelan Pembatas Trolley (Pangkal dan Ujung Jib)
Pembatas Trolley Pangkal.
Trolley dijalankan kearah pangkal, setelah 20 cm mendekati pangkal pembatas trolley distel agar trolley tidak dapat mundur lagi.
Pembatas Trolley Ujung
Trolley dijalankan kearah ujung, setelah 20 cm mendekati ujung, pembatas trolley distel sehingga trolley tidak dapat maju lagi.
d. Penyetelan Pembatas Hoist
Hoist dijalankan kearah turun, 1 meter sebelum sampai ke dasar (tanah) pembatas hoist distel sehingga hook tidak dapat menyentuh tanah.
Hoist dijalankan kearah atas, ½ meter sebelum sampai ke jib pembatas hoit distel sehingga hook tidak dapat menyetuh jib.
e. Penyetelan Pembatas Hoist, Brake Slewing dan Brake Troller
Brake Hoist
Brake Hoist distel sampai mampu utnuk menahan daya angkat pada beban maksimal.
Brake Slewing
Brake Slewing distel agar dapat menahan terpaan angin dan dapat menghentikan gerakan putar secara perlahan-lahan.
Brake Trolley
Brake Trolley distel agar trolley dapat berhenti sesuai yang dikehendaki operator.
3.5 Running
a. Hoist
Hoist dioperasikan naik turun-naik turun sambil diawasi seluruh bagian-bagian yang ada hubungannya dengan Hoist, antara lain: Motor Hoist, Pulley, Bearing, Seling, gear Box, Brake. Dapat bekerja dengan baik.
b. Slewing
Slewing dioperasikan, diputar kekiri dan kekanan sambil diawasi seluruh bagian-bagian yang ada hubungannya dengan slewing, antara lain: Motor Slewing, bearing, Brake, Gear Slewing.
c. Trolley
Trolley dioperasikan maju mundur-maju mundur sambil diawasi seluruh bagian-bagian yang ada hubungannya dengan Trolley, antara lain: Motor Trolley, Seling, Pulley, Brake, Roller Trolley dapat bekerja dengan baik.
4.0 DISMANTLING TOWER CRANE
4.1. Persiapan Alat Bantu dan Tools
Sebelum Dismantling dimulai, terlebih dahulu alat-alat dipersiapkan:
- Mobil Crane kapasitas sesuai kebutuhan
- Tools (kunci-kunci)
4.2. Penurunan Tower Crane
Penurunan Tower Crane mempergunakan hydraulik system yang digerakkan dengan motor listrik, dari pompa hydraulik ini tekanan dipindahkan ke cilinder hydraulik. Dari cilinder hydraulik inilah tenaga yang dipergunakan untuk mengangkat dari tower crane, yaitu dari mulai slewing table, jib, counter jib, counter weight dan tower head.
Sebelum dimulai jacking, harus dibebani untuk mencari keseimbangan. Beban ini digantung pada jib dan jaraknya diatur. Pastikan antara jib dan counter jib sudah menjadi seimbang. Setelah yakin bahwa keseimbangan telah tercapai maka penurunan Tower Crane dapat dimulai.
Baut yang menghubungkan slewing table dengan element section yang paling atas dilepas (apabila Tower Crane dengan dengan system pin maka pin yang dilepas). Setelah itu Slewing Table diangkat dengan jack sampai terpisah dengan section, kemudian baut (pin) yang menghubungakan section paling atas dengan yang dibawahnya dilepas. Kemudian element section yang sudah dilepas, dikeluarkan dari clambing cage ke depan ke tempat dudukan atau gantungan section diluar clambing cage. Selanjutnya jack diturunkan terus sampai pada section yang masih tersambung dengan yang lain, maka pekerjaan penurunan selesai satu section, dan seterusnya diulang sampai pada yang paling rendah dari ketinggian Tower Crane (sampai terjangkau mobil crane yang telah dipersiapkan).
4.3. Melepas Bracing
Bressing dilepas dengan cara, melepas pin apabila memakai pin. Kemudian bracing atau frame collar diturunkan.
4.4. Melepas Wire Rope
Wire Rope Trolley dilepas dari trolley lalu digulung, diletakkan di dekat motor trolley.
4.5. Melepas Kabel Electric
Kabel-kabel electric seperti kabel power dilepas, kemudian kabel-kabel listrik yang terikat pada bagian-bagian tertentu socketnya dilepas (dilepas dari connectingnya).
4.6. Melepas Counter Weight
Counter weight diangkat dengan alat mobil crane satu persatu. Melepas counter weight ini harus mengikuti petunjuk dari buku manual, karena ada tower crane yang counter weightnya dapat dilepas semua, ada yang disisakan satu atau dua sebelum jib depan dilepas (hal ini untuk menjaga keseimbangan).
4.7. Melepas Jib
Jib diangkat dengan mobil crane pada titik tengahnya, agar ada keseimbangan, terus sampai ketinggian tertentu dimana tie rod bisa dilepas dan menempel pada jib bagian atas. Tie Rod diikat dengan tali kawat pada jib agar tidak melejit ke samping. Selanjutnya jib diturunkan sampai ujung jib selevel dengan pangkal jib yang dislewing table. Kemudian pin yang menghubungkan jib dengan slewing table dilepas, maka jib sudah terlepas dari slewing table, lalu jib diletakkan di tempat yang rata, diganjal agar trolley tidak tertimpa jib itu sendiri. Setelah itu jib dilepas element demi element. Demikian juga tie rodnya dilepas satu persatu.
4.8. Melepas Counter Jib
Apabila di counter jib masih ada counter weight yang tersisa maka counter weight harus diturunkan sampai habis, kemudian counter jib diangkat oleh mobil crane pada ketinggian tertentu agar dapat melepas pin tie rod. Setelah tie rod terlepas jib diturunkan sedikit sampai ujungnya selevel dengan pangkal, kemudian pin yang menghubungkan dengan slewing table dilepas. Maka counter jib sudah terlepas, dan counter jib dapat diletakkan di tempat yang rata.
4.9. Melepas Tower Head
Tower head dilepas dari slewing table, kemudian diangkat dengan alat mobil crane lalu diletakkan ditempat di bawah.
4.10. Melepas Slewing Table
Slewing Table dipasang seling angkat pada empat titik, kemudian dikaitkan ke hook mobil crane yang sudah disiapkan. Baut atau pin yang menghubungkan slewing table dengan base section dan clambing cage dilepas. Selanjutnya slewing table diangkat dengan base section dan clambing cage dilepas.
4.11. Melepas Clambing Cage
Clambing cage dilepas dari base section, untuk tower crane yang dimensi sectionnya kurang dari 160, clambing cage bisa ditarik keatas langsung lepas dari base section. Tetapi apabila dimensi section tower crane lebih dari 2 meter, clambing cage dilepas bagian demi bagian.
4.12. Melepas Base Section
Base Section diangkat dari anchor denagn alat mobil crane, setelah baut-bautnya dilepas (pin).
4.13. Bongkar Pondasi Melepas Anchor
Pondasi beton dibobok sampai dengan anchornya dapat diambil.
5.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN
Pemeriksaan dan pengetesan Tower Crane dilakukan sesuai dengan Prosedur Pengendalian Alat (PR/EQP-1/R2)
6.0 REKAMAN
6.1 Checklist Tower Crane (FM/EQP-1/14.09)
7.0 LAMPIRAN
7.1 Standard Pondasi Tower Crane Raimondi ER 240
7.2 Pondasi Raimondi ER 240
7.3 Standard Pondasi Tower Crane Raimondi ER 180
7.4 Pondasi Raimondi ER 180
STANDARD PONDASI TOWER CRANE RAIMONDI ER 240
Ip = 2 ( a12 + a22 + a32 + … )
(Np+Nc) M.a1
Daya dukung tiang = ————— + ———
n Ip
dimana:
Np = Berat Tower Crane (t)
Nc = Berat Pondasi (t)
n = Jumlah tiang pancang/bored pile (min. 4 titik), di keempat sudut
M = Moment (t.m)
Standard pondasi Tower Crane ER240 = 5000x5000x1700
Free Standing (± 30 meter)
Jib (m) Np (T) Nc (T) n M (t.m) a1 (m) Ip (m2) Tiang (t)
70 102 82 4 196 2,6 13,52 84
66 102 80 4 219 2,6 13,52 88
60 102 77 4 227 2,6 13,52 88
56 102 76 4 230 2,6 13,52 89
50 102 73 4 230 2,6 13,52 88
46 102 72 4 228 2,6 13,52 87
40 102 68 4 234 2,6 13,52 88
36 102 68 4 256 2,6 13,52 92
Tulangan minimum = D25-200, keliling pile cap
Apabila tinggi Tower Crane > 30 meter, dipasang Tie In
STANDARD PONDASI TOWER CRANE RAIMONDI ER 180
(SETARA JIANG LU, POTAIN, LIEBHERR) Panjang Jib = max. 50 m
Ip = 2 ( a12 + a22 + a32 + … )
(Np+Nc) M.a1
Daya dukung tiang = ————— + ———
n Ip
dimana:
Np = Berat Tower Crane (t)
Nc = Berat Pondasi (t)
n = Jumlah tiang pancang/bored pile (min. 4 titik), di keempat sudut
M = Moment (t.m)
Standard pondasi Tower Crane ER180 = 4000x4000x1300
(tebal pondasi disesuaikan dengan panjang angkur setiap merk TC)
Free Standing (± 30 meter)
Jib (m) Np (T) Nc (T) n M (t.m) a1 (m) Ip (m2) Tiang (t)
60 39 68 4 168 2 8 69
56 39 66 4 158 2 8 66
50 39 63 4 172 2 8 69
46 39 62 4 176 2 8 69
40 39 60 4 172 2 8 68
Tulangan minimum = D22-200, keliling pile cap
Apabila tinggi Tower Crane > 30 meter, dipasang Tie In
1.0 REFERENSI
1.1. Gambar kerja assembling dan dismantling tower crane
1.2. Rencana Mutu Proyek
2.0 ALAT
2.1. Mobilitas tower crane
- Kendaraan Trailler
- Mobil crane/ telescopic
2.2. Kebutuhan Peralatan
- Palu 5 kg
- Tali tambang
- Safety belt
- Helm
- Sarung tangan
2.3. Kebutuhan perawatan Tower Crane
- Oli
- Grease
- Kanvas brake
- Kanvas seling
BAGIAN-BAGIAN TOWER CRANE
2.4. Counter Hoist
- Motor hoist
- Seiling hoist
- Gear box
- Control panel
- Panel travo
- Pin pengikat
- Railing
2.5. Cabin
- Bordes Cabin
- Cabin & Fan
- Baut pengikat
- Wipper
- Lampu
- Handle Operation Unit
2.6. Tower Head
- Tower head frame
- Bordes tower head
- Pully
- Winch service head
- Penangkal petir
- Lampu sinyal
2.7. Counter Jib
- Counter jib
- Railing
- Pin Pengikat
- Ballast
- As batu ballast
- Tie rod
- Pin tie rod
- Pully
2.8. Tower Head
- Jib
- Pin jib
- Motor trolly
- Trolly Car
- Hook
- Hoist selig trolly
- Tie Rod
BAGIAN-BAGIAN PENDUKUNG
2.9. Kabel Pendukung
- Kabel power (NYY - HY)
- Kabel penangkal petir
- Kabel lampu
- Spit grounding
2.10. Alat Pendukung
- Kunci ring 70”
- Kunci pas 70”
- Kunci Ring 65”
- Kunci ring 65”
- Grease injection pump
- Volt meter
- Ampere meter
- Motor oil limit
-
2.11. Consumable Material
- Oli
- Grease
- WD 40
2.12. Power Pendukung
- Genset
- Solar
- PLN
3.0 LANGKAH KERJA
3.1 PONDASI
Umumnya dikarenakan tanah keras biasa dijumpai pada kedalaman jauh di bawah permukaan tanah, maka pondasi Tower Crane memakai pondasi dalam (tiang pancang/ bored pile). Pada tabel (terlampir), telah disusun kekuatan tiang pancang/ bored pile yang diperlukan. Banyaknya dan ukuran tiang pancang/ bored pile dapat ditentukan dengan cara membandingkan kekuatan tiang (tabel) terhadap hasil rekomendasi laporan penyelidikan tanah per proyek.
3.2 PENEMPATAN TOWER CRANE
Acuan Penempatan Tower Crane meliputi
a. Radius Jangkau
Pemilihan radius jangkau dan jumlah Tower Crane yang diperlukan disesuaikan dengan luasnya proyek sehingga dapat menjangkau area loading/ unloading dan adanya overlapping dengan Tower Crane lainnya (apabila dibutuhkan lebih dari 1 Tower Crane).
b. Antisipasi Void Sementara
Untuk proyek perkantoran atau tower, Tower Crane sebaiknya diletakkan di luar bangunan. Demikian juga untuk bangunan dengan area yang luas (seperti mall) diusahakan agar penempatan Tower Crane di dalam bangunan seminimal mungkin untuk mempermudah proses dismantling. Penempatan Tower Crane di dalam bangunan harus memperhatikan struktur semua lantai agar void sementara tersebut tidak menghalangi pekerjaan lainnya (seperti balok prestress, ramp, bangunan utilitas).
c. Antisipasi Kemudahan Dismantling Tower Crane
Harus dipastikan agar pada saat dismantling Tower Crane, Mobile Crane dapat mencapai lokasi tersebut, posisi jib dan counter weight tidak terhalang oleh struktur bangunan pada saat penurunan dan terjangkau Mobile Crane.
3.3 ASSEMBLING TOWER CRANE
Assembling Tower Crane
a. Persiapan Alat Bantu dan Tools
Sebelum assembling dimulai, terlebih dahulu alat-alat dipersiapkan :
- Mobil Crane kapasitas sesuai kebutuhan
- Tolls (kunci-kunci)
b. Assembling Base Section
Base Section dipasang diatas anchor dan harus menghadap kearah yang sudah diperhitungkan sebelumnya, untuk memudahkan pada waktu jacking Tower Crane dan Dismantling Tower Crane.
c. Assembling Clambing Cage
Clambing Cage dipasang pada Base Section, pastikan bahwa clambing catch (cangkolan clambing) duduk pada tempatnya. Kemudian dilengkapi dengan pasang plat form dan hand reiling.
d. Assembling Slewing Table
Slewing Table dipasang diatas Base Section dan Clambing Cage, ada yang dengan sistem baut, ada yang dengan pen, tergantung dari type dan merk Tower Crane.
Pastikan bahwa setelah dipasang Slewing Table antara Base Section dan Clembing Cage simetris.
e. Assembling Tower Head
Tower Head (kuncung) dipasang diatas Tower Head, untuk Tower Head ini ada dua macam sistem, yaitu sistem baut dan pin (tergantung dari merk dan tipe alat).
f. Assembling Counter Jib
Sebelum dipasang, Counter Jib dilengkapi dulu dengan: Plat Form, Hand Railing, Tie Rod. Setelah bagian-bagian tersebut terpasang baru Counter Jib dipasang di Slewing Table dan Tower Head.
g. Assembling Jib
Element-element Jib disambung-sambung sampai pada ukuran tertentu (panjang jib sesuai dengan radius yang diperlukan). Antara element jib yang satu dengan yang lain disambung atau di connect dengan pin, kemudian dipasang Trolley. Tie Rod dipasang diatas jib disambung-sambung sesuai dengan panjangnya jib. Selanjutnya jib diangkat dengan alat Bantu (mobil crane) untuk dipasang dislewing table dan tower head dengan pin.
h. Assembling Counter Weight
Counter Weight dipasang satu persatu pada counter jib pada bagian belakang sampai pada jumlah yang sudah ditentukan.
i. Assembling Wire Rope (seling)
- Trolley Wire Rope
Dari drum wire rope (seling), seling ditarik melalui pulley kemudian di connect di trolley bagian depan (ujung yang kedepan). Untuk ujung yang ke belakang seling ditarik melalui pulley kemudian diconnect di trolley bagian belakang.
- Hoisting Wire Rope
Dari drum seling, seling ditarik melalui pulley-pulley pada trolley diteruskan ke pulley-pulley yang ada pada balok kemudian kembali ke pulley trolley yang lain diteruskan lagi sampai ke ujung jib lalu dipasang di free Twist Rope Fastener.
j. Assembling Electric System
- Electric System
Penyambungan kebel-kebel listrik harus dilakukan dengan penuh ketelitian sesuai dengan kode atau nomor yang ada pada ujung kabel. Pastikan rangkaian electric sudah sesuai dengan diagram eletrik pada buku manual. Dan semua komponen sudah diperiksa dengan alat: Multi tester dan Tang Ampere.
k. Jacking Tower Crane
Jacking Tower Crane mempergunakan hydraulic system yang digerakkan dengan motor listrik, dari pompa hydraulic ini tekanan dipindahkan ke cylinder hydraulic. Dari cylinder hydraulic inilah tenaga yang dipergunakan untuk mengangkat bagian dari tower crane, yaitu dari mulai slewing table, jib, counter jib, Counter weight dan tower head.
Sebelum dimulai jacking, tower crane dibebani utnuk mencari keseimbangan. Beban ini digantung pada jib dan jaraknya diatur. Pastikan antara jib dan counter jib sudah menjadi seimbang. Setelah yakin bahwa keseimbangan telah tercapai maka jacking dimulai tahap demi tahap sampai pada ketinggian satu element section.
Kemudian section dimasukkan ke dalam clambing cage untuk diconnect (disambung) dengan element yang sudah terpasang, dengan baut atau pin, karena ada yang mempergunakan baut ada pula yang mempergunakan pin pada sambungan tersebut (sesuai dengan type dan merk tower crane).
Setelah element section terpasang, slewing table dipasang ke element section yang baru terpasang. Maka selesailah jacking satu element section.
l. Frame Collar (Bracing Tower Crane)
Apabila Tower Crane sudah melampaui ketinggian dari free standing maka harus dipasang bracing. Frame Collar dipasang pada element section pada ketinggian tertentu kemudian dihubungkan ke bangunan. Dipasang sedemikian rupa agar dapat menahan gaya puntir atau moment puntir.
m. Pasang Penangkal Petir
Penangkal Petir dipasang sesuai dengan persyaratan: Ukuran kabel minimum 50 mm, Elektroda bawah harus sampai pada permukaan air tanah. Dan Elektroda yang diatas Tower Crane ukurannya 1 inch.
3.4 Test Beban
a. Penyetelan Pembatas Beban
Tower Crane dipakai untuk mengangkat beban sesuai dengan kapasitas terkecil. Kemudian trolley dijalankan ke depan sampai batas limit depan. Limit beban distel, sehingga apabila beban melebihi dari beban kapasitas terkecil maka pembatas beban akan bekerja.
b. Penyetelan Pembatas Moment
Tower Crane dipakai untuk mengangkat beban sesuai dengan kapasitas terkecil langsung dari ujung limit depan. Kemudian limit moment distel agar beban bisa terangkat. Setelah itu diturunkan kembali kemudian beban ditambah kira-kira 50 kg, dan pembatas moment harus bekerja (artinya beban tidak bisa terangkat).
c. Penyetelan Pembatas Trolley (Pangkal dan Ujung Jib)
Pembatas Trolley Pangkal.
Trolley dijalankan kearah pangkal, setelah 20 cm mendekati pangkal pembatas trolley distel agar trolley tidak dapat mundur lagi.
Pembatas Trolley Ujung
Trolley dijalankan kearah ujung, setelah 20 cm mendekati ujung, pembatas trolley distel sehingga trolley tidak dapat maju lagi.
d. Penyetelan Pembatas Hoist
Hoist dijalankan kearah turun, 1 meter sebelum sampai ke dasar (tanah) pembatas hoist distel sehingga hook tidak dapat menyentuh tanah.
Hoist dijalankan kearah atas, ½ meter sebelum sampai ke jib pembatas hoit distel sehingga hook tidak dapat menyetuh jib.
e. Penyetelan Pembatas Hoist, Brake Slewing dan Brake Troller
Brake Hoist
Brake Hoist distel sampai mampu utnuk menahan daya angkat pada beban maksimal.
Brake Slewing
Brake Slewing distel agar dapat menahan terpaan angin dan dapat menghentikan gerakan putar secara perlahan-lahan.
Brake Trolley
Brake Trolley distel agar trolley dapat berhenti sesuai yang dikehendaki operator.
3.5 Running
a. Hoist
Hoist dioperasikan naik turun-naik turun sambil diawasi seluruh bagian-bagian yang ada hubungannya dengan Hoist, antara lain: Motor Hoist, Pulley, Bearing, Seling, gear Box, Brake. Dapat bekerja dengan baik.
b. Slewing
Slewing dioperasikan, diputar kekiri dan kekanan sambil diawasi seluruh bagian-bagian yang ada hubungannya dengan slewing, antara lain: Motor Slewing, bearing, Brake, Gear Slewing.
c. Trolley
Trolley dioperasikan maju mundur-maju mundur sambil diawasi seluruh bagian-bagian yang ada hubungannya dengan Trolley, antara lain: Motor Trolley, Seling, Pulley, Brake, Roller Trolley dapat bekerja dengan baik.
4.0 DISMANTLING TOWER CRANE
4.1. Persiapan Alat Bantu dan Tools
Sebelum Dismantling dimulai, terlebih dahulu alat-alat dipersiapkan:
- Mobil Crane kapasitas sesuai kebutuhan
- Tools (kunci-kunci)
4.2. Penurunan Tower Crane
Penurunan Tower Crane mempergunakan hydraulik system yang digerakkan dengan motor listrik, dari pompa hydraulik ini tekanan dipindahkan ke cilinder hydraulik. Dari cilinder hydraulik inilah tenaga yang dipergunakan untuk mengangkat dari tower crane, yaitu dari mulai slewing table, jib, counter jib, counter weight dan tower head.
Sebelum dimulai jacking, harus dibebani untuk mencari keseimbangan. Beban ini digantung pada jib dan jaraknya diatur. Pastikan antara jib dan counter jib sudah menjadi seimbang. Setelah yakin bahwa keseimbangan telah tercapai maka penurunan Tower Crane dapat dimulai.
Baut yang menghubungkan slewing table dengan element section yang paling atas dilepas (apabila Tower Crane dengan dengan system pin maka pin yang dilepas). Setelah itu Slewing Table diangkat dengan jack sampai terpisah dengan section, kemudian baut (pin) yang menghubungakan section paling atas dengan yang dibawahnya dilepas. Kemudian element section yang sudah dilepas, dikeluarkan dari clambing cage ke depan ke tempat dudukan atau gantungan section diluar clambing cage. Selanjutnya jack diturunkan terus sampai pada section yang masih tersambung dengan yang lain, maka pekerjaan penurunan selesai satu section, dan seterusnya diulang sampai pada yang paling rendah dari ketinggian Tower Crane (sampai terjangkau mobil crane yang telah dipersiapkan).
4.3. Melepas Bracing
Bressing dilepas dengan cara, melepas pin apabila memakai pin. Kemudian bracing atau frame collar diturunkan.
4.4. Melepas Wire Rope
Wire Rope Trolley dilepas dari trolley lalu digulung, diletakkan di dekat motor trolley.
4.5. Melepas Kabel Electric
Kabel-kabel electric seperti kabel power dilepas, kemudian kabel-kabel listrik yang terikat pada bagian-bagian tertentu socketnya dilepas (dilepas dari connectingnya).
4.6. Melepas Counter Weight
Counter weight diangkat dengan alat mobil crane satu persatu. Melepas counter weight ini harus mengikuti petunjuk dari buku manual, karena ada tower crane yang counter weightnya dapat dilepas semua, ada yang disisakan satu atau dua sebelum jib depan dilepas (hal ini untuk menjaga keseimbangan).
4.7. Melepas Jib
Jib diangkat dengan mobil crane pada titik tengahnya, agar ada keseimbangan, terus sampai ketinggian tertentu dimana tie rod bisa dilepas dan menempel pada jib bagian atas. Tie Rod diikat dengan tali kawat pada jib agar tidak melejit ke samping. Selanjutnya jib diturunkan sampai ujung jib selevel dengan pangkal jib yang dislewing table. Kemudian pin yang menghubungkan jib dengan slewing table dilepas, maka jib sudah terlepas dari slewing table, lalu jib diletakkan di tempat yang rata, diganjal agar trolley tidak tertimpa jib itu sendiri. Setelah itu jib dilepas element demi element. Demikian juga tie rodnya dilepas satu persatu.
4.8. Melepas Counter Jib
Apabila di counter jib masih ada counter weight yang tersisa maka counter weight harus diturunkan sampai habis, kemudian counter jib diangkat oleh mobil crane pada ketinggian tertentu agar dapat melepas pin tie rod. Setelah tie rod terlepas jib diturunkan sedikit sampai ujungnya selevel dengan pangkal, kemudian pin yang menghubungkan dengan slewing table dilepas. Maka counter jib sudah terlepas, dan counter jib dapat diletakkan di tempat yang rata.
4.9. Melepas Tower Head
Tower head dilepas dari slewing table, kemudian diangkat dengan alat mobil crane lalu diletakkan ditempat di bawah.
4.10. Melepas Slewing Table
Slewing Table dipasang seling angkat pada empat titik, kemudian dikaitkan ke hook mobil crane yang sudah disiapkan. Baut atau pin yang menghubungkan slewing table dengan base section dan clambing cage dilepas. Selanjutnya slewing table diangkat dengan base section dan clambing cage dilepas.
4.11. Melepas Clambing Cage
Clambing cage dilepas dari base section, untuk tower crane yang dimensi sectionnya kurang dari 160, clambing cage bisa ditarik keatas langsung lepas dari base section. Tetapi apabila dimensi section tower crane lebih dari 2 meter, clambing cage dilepas bagian demi bagian.
4.12. Melepas Base Section
Base Section diangkat dari anchor denagn alat mobil crane, setelah baut-bautnya dilepas (pin).
4.13. Bongkar Pondasi Melepas Anchor
Pondasi beton dibobok sampai dengan anchornya dapat diambil.
5.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN
Pemeriksaan dan pengetesan Tower Crane dilakukan sesuai dengan Prosedur Pengendalian Alat (PR/EQP-1/R2)
6.0 REKAMAN
6.1 Checklist Tower Crane (FM/EQP-1/14.09)
7.0 LAMPIRAN
7.1 Standard Pondasi Tower Crane Raimondi ER 240
7.2 Pondasi Raimondi ER 240
7.3 Standard Pondasi Tower Crane Raimondi ER 180
7.4 Pondasi Raimondi ER 180
STANDARD PONDASI TOWER CRANE RAIMONDI ER 240
Ip = 2 ( a12 + a22 + a32 + … )
(Np+Nc) M.a1
Daya dukung tiang = ————— + ———
n Ip
dimana:
Np = Berat Tower Crane (t)
Nc = Berat Pondasi (t)
n = Jumlah tiang pancang/bored pile (min. 4 titik), di keempat sudut
M = Moment (t.m)
Standard pondasi Tower Crane ER240 = 5000x5000x1700
Free Standing (± 30 meter)
Jib (m) Np (T) Nc (T) n M (t.m) a1 (m) Ip (m2) Tiang (t)
70 102 82 4 196 2,6 13,52 84
66 102 80 4 219 2,6 13,52 88
60 102 77 4 227 2,6 13,52 88
56 102 76 4 230 2,6 13,52 89
50 102 73 4 230 2,6 13,52 88
46 102 72 4 228 2,6 13,52 87
40 102 68 4 234 2,6 13,52 88
36 102 68 4 256 2,6 13,52 92
Tulangan minimum = D25-200, keliling pile cap
Apabila tinggi Tower Crane > 30 meter, dipasang Tie In
STANDARD PONDASI TOWER CRANE RAIMONDI ER 180
(SETARA JIANG LU, POTAIN, LIEBHERR) Panjang Jib = max. 50 m
Ip = 2 ( a12 + a22 + a32 + … )
(Np+Nc) M.a1
Daya dukung tiang = ————— + ———
n Ip
dimana:
Np = Berat Tower Crane (t)
Nc = Berat Pondasi (t)
n = Jumlah tiang pancang/bored pile (min. 4 titik), di keempat sudut
M = Moment (t.m)
Standard pondasi Tower Crane ER180 = 4000x4000x1300
(tebal pondasi disesuaikan dengan panjang angkur setiap merk TC)
Free Standing (± 30 meter)
Jib (m) Np (T) Nc (T) n M (t.m) a1 (m) Ip (m2) Tiang (t)
60 39 68 4 168 2 8 69
56 39 66 4 158 2 8 66
50 39 63 4 172 2 8 69
46 39 62 4 176 2 8 69
40 39 60 4 172 2 8 68
Tulangan minimum = D22-200, keliling pile cap
Apabila tinggi Tower Crane > 30 meter, dipasang Tie In
MEMAHAMI BAHASA SI BATITA (BAYI)
MEMAHAMI BAHASA SI BATITA
"Bun, num...," tahukah Anda maksud ucapan si batita ini? Atau ketika ia berkata, "Co jangan mam, Yah...," apa yang terlintas di kepala Anda?
Memang tak mudah untuk memahami bahasa si batita, tetapi bukan berarti kita tak dapat belajar mengenal maknanya. Asal tahu saja, sejak awal usia batita, anak mulai mampu mengucapkan sebuah kata yang mempunyai arti. Persoalannya, si anak belum bisa mengucapkan kata tersebut dengan artikulasi yang baik seperti halnya orang dewasa. Makanya tak heran jika pengucapannya sering kali sepotong-sepotong, misalnya "minum" jadi "num" atau "pergi" jadi "gi", dan lainnya.
Kemampuan berbahasa ini dipengaruhi oleh kematangan otak (khususnya limbik otak bahasa) dan pembentukan lingkungan terutama yang paling menentukan adalah orangtua. Semakin banyak orangtua memberikan stimulus kepada anak, maka efeknya akan berbanding lurus, anak akan semakin kaya kosakata. Jadi, semakin sering orangtua menanggapi ajakan anak berkomunikasi dan mengenalkan banyak konsep, juga benda, otomatis perkembangan bahasanya akan semakin maju.
Yang juga penting disadari, dalam rentang perkembangan seorang anak terdapat masa peka, termasuk masa peka perkembangan bahasa. Hanya di masa peka inilah, istilahnya dengan sekali sentuhan saja, apa yang kita tanam langsung berbuah. Sebaliknya, jika masa peka perkembangan bahasa ini terlewatkan begitu saja, maka orangtua akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan anak dengan kemampuan berbahasa yang prima. Lantas, bagaimana cara mengetahui masa peka tersebut? Jawabannya, hanya orangtua yang selalu berinteraksi dan memiliki kedekatan dengan anak yang mengetahuinya.
TAHAPAN PERKEMBANGAN BAHASA
* Usia 1 tahun:
Anak berada pada tahap linguistic speech yang sangat sederhana dan satu kata bisa mewakili banyak pemikiran lengkap. Anak sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata, tetapi cuma sepotong, dan sepotong kata itu bisa punya arti panjang. Contoh, saat anak bilang "bun" dengan maksud Bunda, artinya mungkin saja, "Aku ingin digendong," atau "Aku ingin ikut jalan-jalan bersama bunda."
* Usia 2 tahun:
Sekalipun masih mirip dengan kemampuan di usia satu tahun, tetapi di usia ini anak sudah mampu menggabungkan dua kata atau lebih menjadi satu kalimat yang bermakna dan berarti. Contohnya, "Minum susu," atau "Pergi sana," hingga "Tidak susu. Putih saja."
* Usia 3 tahun:
Anak sering melakukan hal yang sangat menarik perhatian karena ia tengah memasuki tahap membangkang, yaitu melakukan yang dilarang dan tidak melakukan yang diizinkan. Tak heran jika dalam perkembangan bahasanya, anak senang mengatakan sesuatu yang membuat orangtua cemas dan malu, seperti "bego", "mampus", dan kata-kata kasar lainnya. Apalagi jika ditunjang dengan seringnya orangtua melarang anak mengucapkan kata-kata tersebut tanpa penjelasan yang tepat. Belum lagi kosakata yang diperolehnya di usia ini semakin banyak dan tidak melulu hanya dari orangtua.
Selain itu, mulai usia ini juga umumnya anak mengeluarkan kalimat yang kadang terdengar janggal karena susunan kata-katanya tidak tepat alias terbalik-balik, sehingga apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan maksud si anak.
Walaupun begitu, orangtua tak perlu cemas. Hal ini wajar terjadi pada batita, karena:
* Anak pertama kali baru bisa bicara menyambungkan lebih dari satu hingga dua kata hingga membentuk sebuah kalimat yang berarti.
* Anak pertama kali baru bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui bahasa yang mempunyai arti dan bisa dipahami.
* Anak banyak mempunyai kosakata untuk dijadikan sebuah kalimat yang digunakannya saat berkomunikasi.
* Anak mulai memeroleh banyak informasi kata dan kalimat baru yang menarik.
* Kemampuan mengolah kata dalam bentuk kalimat hingga menjadi sebuah bahasa di otaknya masih sangat terbatas.
* Pengalaman berbahasanya masih sangat minim.
CARA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BAHASA
Jika cara-cara di bawah ini dilakukan secara terus-menerus dan konsisten, maka anak akan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya berbahasa dan berkomunikasi dan baik. Inilah beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua saat berkomunikasi dengan si batita:
• Gunakan bahasa yang benar, bukan baby talk seperti, "Oh, mau mimi cucu, ya," tapi, "Oh, mau minum susu, ya?"
• Gunakan kalimat dan kata yang tidak bermakna ganda. Contoh, "Jangan ke sana, bahaya!" Ingat, ke sana itu bisa berarti ke luar rumah, ke tempat cucian, ke dapur, dan ke banyak tempat lainnya. Lebih baik, katakan, "Jangan ke dekat kompor menyala, bahaya!"
• Gunakan selalu kalimat pendek.
• Hindari kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak menirunya.
• Karena anak masih belajar, orangtua sebaiknya melantunkan bahasa dengan jelas, tidak cepat-cepat dan dengan gerak mulut (bibir dan lidah) yang tegas sehingga mudah dikenali dan diikuti anak.
• Jika menemukan kesalahan pada kata/kalimat dalam bahasa anak, segera luruskan dengan cara mengulang ucapannya secara benar.
5 "MASALAH" BAHASA & SOLUSINYA
1. Bicara terbalik-balik
Contoh, si kecil mengatakan, "Co jangan mam, Yah." Orangtua tinggal meluruskan dengan mengucapkan kalimat yang sama dan arti yang sama tapi susunannya benar, "Ayah jangan makan bakso ini." Dilanjutkan dengan memberikan jawaban, "Oke, Ayah tidak makan bakso ini." Bisa juga dilanjutkan, "Bakso ini punyamu, ya."
Jangan sekali-kali mengatakan ucapannya itu salah, "Salah itu. Yang benar seperti ini..." misalnya. Ingat, di usia batita, anak "hobi" membangkang (tahap negativistik), sehingga bisa terjadi si kecil malah akan terus mengulang yang salah. "Kenapa juga harus kayak gitu. Intinya, kan bisa dimengerti," begitu batin si anak.
Jika dibiarkan, bahasa anak akan berkembang ke arah yang tidak tepat, membingungkan, sehingga tidak dipahami lingkungan dan menyulitkannya dalam bersosialisasi. Mungkin juga, anak akan mengalami disleksia, meskipun perjalanan sampai ke situ jauh sekali. Yang pasti, sesuatu yang salah jika dibiarkan akan membawa efek tak baik.
2. Bicara kasar atau jorok
Tak jarang kita mendengar anak batita mengatakan kalimat kasar seperti, "Bego lu" atau "Mampus lu". Bisa jadi kata-kata kasar itu diperolehnya dari lingkungan bermain. Ketika orangtua tidak dapat mengawasi anak terus-menerus, tentu tak ada jaminan anak terhindar dari contoh kata-kata seperti itu, bukan?
Karenanya, diperlukan perhatian orangtua agar anak mengurangi pengucapan kata-kata tersebut dan tidak menjadikannya kebiasaan. Namun, jangan sekali-kali memvonis bahwa anak kasar, nakal, atau jorok, sekalipun kata-kata tidak sopannya dilontarkan di muka umum. Siapa tahu anak melakukan itu karena senang pada bunyinya, sementara ia belum tahu arti dan maknanya secara pasti.
Hanya saja, tidak tertutup kemungkinan anak mengucapkan kata-kata kasar atau kotor sebagai ungkapan kekesalan atau kemarahan. Bila demikian, orangtua mesti mengajarkan cara menyalurkan rasa marah dan kesal yang dapat diterima orang lain. Jangan lupa, jelaskan alasannya seperti, "Adek, ucapanmu itu bisa membuat orang lain sedih, lo." Atau, "Kalau dikatain bego, apa kamu juga mau? Sedih enggak? Orang lain juga sama."
Untuk anak yang belum tahu arti kata kasar dan kotor yang ia ucapkan, jelaskan makna yang sebenarnya, "Ade, tai itu kan kotoran yang keluar kalau kita pup. Jadi tidak baik diungkapkan pada orang lain."
Tetapi jika ucapannya menggambarkan kondisi nyata apa adanya, semisal, "Enggak mau, Om bau," karena si om habis berolaraga dan badannya bau keringat, tentu tidak apa-apa dan anak tak bisa disalahkan.
3. Salah makna kata atau kalimat
Sekalipun anak usia ini sudah mampu merangkaikan lebih dari 3 kata menjadi sebuah kalimat, akan tetapi sering kali kalimat tersebut maknanya salah. Bahkan tak jarang, satu kalimat yang diucapkan anak mempunyai arti yang bejibun, seperti "Bun, mam susu, lapar."
Kondisi ini terjadi karena keterbatasan kemampuan anak untuk menggunakan kosakata yang ada di memorinya menjadi sebuah kalimat seperti yang diinginkannya. Yang harus dilakukan orangtua adalah segera meluruskannya detik itu juga, "Adek haus atau lapar? Setelah mendapat jawaban, katakan lagi, "Oh, Adek lapar. Jadi ingin makan, ya."
4. Cadel.
Biasanya anak batita cadel saat mengucapkan bunyi: R jadi L, K jadi D, dan S dengan T sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda, lo.
Cadel terjadi bisa karena kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah. Orangtua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan yang benar seperti apa. Tetapi ingat, orangtua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa, apalagi jika saat itu belum tiba waktunya kematangan untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya.
Sebaliknya jika dibiarkan saja, mungkin anak akan terus berada dalam kecadelannya, sehingga akan semakin sulit diluruskan kalau dia sudah lewat masa tune in dalam proses kematangannya.
Sedangkan, cadel karena kelainan fisiologis semisal lidahnya pendek, tak punya anak tekak, atau langit-langitnya cekung. Penanganannya tentu harus dibawa ke dokter.
5. Mengucapkan hanya ekornya saja.
Yang ini memang sering terjadi pada anak batita. Contoh, "minum" jadi "num", "pergi" jadi "gi", "minta" jadi "ta", "mau" jadi "u", dan seterusnya. Kalau melihat logika dari teori barang masuk ke kotak, di situ jelas terlihat, barang yang masuk terakhir pasti akan jadi terdepan atau lebih dulu yang kita lihat. Nah, seperti itu pula yang terjadi pada seorang anak. Belum lagi, kemampuan otaknya untuk menangkap, mencerna, dan mengeluarkan apa yang dia miliki masih dalam tahap belajar. So, wajar dong kalau masih suka tersendat-sendat.
Gazali Solahuddin. Ilustrator: Pugoeh
Narasumber: Ira Puspita, MSi.,Pembantu Dekan I Bidang Akademik, Universitas Gunadarma, Depok
"Bun, num...," tahukah Anda maksud ucapan si batita ini? Atau ketika ia berkata, "Co jangan mam, Yah...," apa yang terlintas di kepala Anda?
Memang tak mudah untuk memahami bahasa si batita, tetapi bukan berarti kita tak dapat belajar mengenal maknanya. Asal tahu saja, sejak awal usia batita, anak mulai mampu mengucapkan sebuah kata yang mempunyai arti. Persoalannya, si anak belum bisa mengucapkan kata tersebut dengan artikulasi yang baik seperti halnya orang dewasa. Makanya tak heran jika pengucapannya sering kali sepotong-sepotong, misalnya "minum" jadi "num" atau "pergi" jadi "gi", dan lainnya.
Kemampuan berbahasa ini dipengaruhi oleh kematangan otak (khususnya limbik otak bahasa) dan pembentukan lingkungan terutama yang paling menentukan adalah orangtua. Semakin banyak orangtua memberikan stimulus kepada anak, maka efeknya akan berbanding lurus, anak akan semakin kaya kosakata. Jadi, semakin sering orangtua menanggapi ajakan anak berkomunikasi dan mengenalkan banyak konsep, juga benda, otomatis perkembangan bahasanya akan semakin maju.
Yang juga penting disadari, dalam rentang perkembangan seorang anak terdapat masa peka, termasuk masa peka perkembangan bahasa. Hanya di masa peka inilah, istilahnya dengan sekali sentuhan saja, apa yang kita tanam langsung berbuah. Sebaliknya, jika masa peka perkembangan bahasa ini terlewatkan begitu saja, maka orangtua akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan anak dengan kemampuan berbahasa yang prima. Lantas, bagaimana cara mengetahui masa peka tersebut? Jawabannya, hanya orangtua yang selalu berinteraksi dan memiliki kedekatan dengan anak yang mengetahuinya.
TAHAPAN PERKEMBANGAN BAHASA
* Usia 1 tahun:
Anak berada pada tahap linguistic speech yang sangat sederhana dan satu kata bisa mewakili banyak pemikiran lengkap. Anak sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata, tetapi cuma sepotong, dan sepotong kata itu bisa punya arti panjang. Contoh, saat anak bilang "bun" dengan maksud Bunda, artinya mungkin saja, "Aku ingin digendong," atau "Aku ingin ikut jalan-jalan bersama bunda."
* Usia 2 tahun:
Sekalipun masih mirip dengan kemampuan di usia satu tahun, tetapi di usia ini anak sudah mampu menggabungkan dua kata atau lebih menjadi satu kalimat yang bermakna dan berarti. Contohnya, "Minum susu," atau "Pergi sana," hingga "Tidak susu. Putih saja."
* Usia 3 tahun:
Anak sering melakukan hal yang sangat menarik perhatian karena ia tengah memasuki tahap membangkang, yaitu melakukan yang dilarang dan tidak melakukan yang diizinkan. Tak heran jika dalam perkembangan bahasanya, anak senang mengatakan sesuatu yang membuat orangtua cemas dan malu, seperti "bego", "mampus", dan kata-kata kasar lainnya. Apalagi jika ditunjang dengan seringnya orangtua melarang anak mengucapkan kata-kata tersebut tanpa penjelasan yang tepat. Belum lagi kosakata yang diperolehnya di usia ini semakin banyak dan tidak melulu hanya dari orangtua.
Selain itu, mulai usia ini juga umumnya anak mengeluarkan kalimat yang kadang terdengar janggal karena susunan kata-katanya tidak tepat alias terbalik-balik, sehingga apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan maksud si anak.
Walaupun begitu, orangtua tak perlu cemas. Hal ini wajar terjadi pada batita, karena:
* Anak pertama kali baru bisa bicara menyambungkan lebih dari satu hingga dua kata hingga membentuk sebuah kalimat yang berarti.
* Anak pertama kali baru bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui bahasa yang mempunyai arti dan bisa dipahami.
* Anak banyak mempunyai kosakata untuk dijadikan sebuah kalimat yang digunakannya saat berkomunikasi.
* Anak mulai memeroleh banyak informasi kata dan kalimat baru yang menarik.
* Kemampuan mengolah kata dalam bentuk kalimat hingga menjadi sebuah bahasa di otaknya masih sangat terbatas.
* Pengalaman berbahasanya masih sangat minim.
CARA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BAHASA
Jika cara-cara di bawah ini dilakukan secara terus-menerus dan konsisten, maka anak akan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya berbahasa dan berkomunikasi dan baik. Inilah beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua saat berkomunikasi dengan si batita:
• Gunakan bahasa yang benar, bukan baby talk seperti, "Oh, mau mimi cucu, ya," tapi, "Oh, mau minum susu, ya?"
• Gunakan kalimat dan kata yang tidak bermakna ganda. Contoh, "Jangan ke sana, bahaya!" Ingat, ke sana itu bisa berarti ke luar rumah, ke tempat cucian, ke dapur, dan ke banyak tempat lainnya. Lebih baik, katakan, "Jangan ke dekat kompor menyala, bahaya!"
• Gunakan selalu kalimat pendek.
• Hindari kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak menirunya.
• Karena anak masih belajar, orangtua sebaiknya melantunkan bahasa dengan jelas, tidak cepat-cepat dan dengan gerak mulut (bibir dan lidah) yang tegas sehingga mudah dikenali dan diikuti anak.
• Jika menemukan kesalahan pada kata/kalimat dalam bahasa anak, segera luruskan dengan cara mengulang ucapannya secara benar.
5 "MASALAH" BAHASA & SOLUSINYA
1. Bicara terbalik-balik
Contoh, si kecil mengatakan, "Co jangan mam, Yah." Orangtua tinggal meluruskan dengan mengucapkan kalimat yang sama dan arti yang sama tapi susunannya benar, "Ayah jangan makan bakso ini." Dilanjutkan dengan memberikan jawaban, "Oke, Ayah tidak makan bakso ini." Bisa juga dilanjutkan, "Bakso ini punyamu, ya."
Jangan sekali-kali mengatakan ucapannya itu salah, "Salah itu. Yang benar seperti ini..." misalnya. Ingat, di usia batita, anak "hobi" membangkang (tahap negativistik), sehingga bisa terjadi si kecil malah akan terus mengulang yang salah. "Kenapa juga harus kayak gitu. Intinya, kan bisa dimengerti," begitu batin si anak.
Jika dibiarkan, bahasa anak akan berkembang ke arah yang tidak tepat, membingungkan, sehingga tidak dipahami lingkungan dan menyulitkannya dalam bersosialisasi. Mungkin juga, anak akan mengalami disleksia, meskipun perjalanan sampai ke situ jauh sekali. Yang pasti, sesuatu yang salah jika dibiarkan akan membawa efek tak baik.
2. Bicara kasar atau jorok
Tak jarang kita mendengar anak batita mengatakan kalimat kasar seperti, "Bego lu" atau "Mampus lu". Bisa jadi kata-kata kasar itu diperolehnya dari lingkungan bermain. Ketika orangtua tidak dapat mengawasi anak terus-menerus, tentu tak ada jaminan anak terhindar dari contoh kata-kata seperti itu, bukan?
Karenanya, diperlukan perhatian orangtua agar anak mengurangi pengucapan kata-kata tersebut dan tidak menjadikannya kebiasaan. Namun, jangan sekali-kali memvonis bahwa anak kasar, nakal, atau jorok, sekalipun kata-kata tidak sopannya dilontarkan di muka umum. Siapa tahu anak melakukan itu karena senang pada bunyinya, sementara ia belum tahu arti dan maknanya secara pasti.
Hanya saja, tidak tertutup kemungkinan anak mengucapkan kata-kata kasar atau kotor sebagai ungkapan kekesalan atau kemarahan. Bila demikian, orangtua mesti mengajarkan cara menyalurkan rasa marah dan kesal yang dapat diterima orang lain. Jangan lupa, jelaskan alasannya seperti, "Adek, ucapanmu itu bisa membuat orang lain sedih, lo." Atau, "Kalau dikatain bego, apa kamu juga mau? Sedih enggak? Orang lain juga sama."
Untuk anak yang belum tahu arti kata kasar dan kotor yang ia ucapkan, jelaskan makna yang sebenarnya, "Ade, tai itu kan kotoran yang keluar kalau kita pup. Jadi tidak baik diungkapkan pada orang lain."
Tetapi jika ucapannya menggambarkan kondisi nyata apa adanya, semisal, "Enggak mau, Om bau," karena si om habis berolaraga dan badannya bau keringat, tentu tidak apa-apa dan anak tak bisa disalahkan.
3. Salah makna kata atau kalimat
Sekalipun anak usia ini sudah mampu merangkaikan lebih dari 3 kata menjadi sebuah kalimat, akan tetapi sering kali kalimat tersebut maknanya salah. Bahkan tak jarang, satu kalimat yang diucapkan anak mempunyai arti yang bejibun, seperti "Bun, mam susu, lapar."
Kondisi ini terjadi karena keterbatasan kemampuan anak untuk menggunakan kosakata yang ada di memorinya menjadi sebuah kalimat seperti yang diinginkannya. Yang harus dilakukan orangtua adalah segera meluruskannya detik itu juga, "Adek haus atau lapar? Setelah mendapat jawaban, katakan lagi, "Oh, Adek lapar. Jadi ingin makan, ya."
4. Cadel.
Biasanya anak batita cadel saat mengucapkan bunyi: R jadi L, K jadi D, dan S dengan T sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda, lo.
Cadel terjadi bisa karena kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah. Orangtua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan yang benar seperti apa. Tetapi ingat, orangtua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa, apalagi jika saat itu belum tiba waktunya kematangan untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya.
Sebaliknya jika dibiarkan saja, mungkin anak akan terus berada dalam kecadelannya, sehingga akan semakin sulit diluruskan kalau dia sudah lewat masa tune in dalam proses kematangannya.
Sedangkan, cadel karena kelainan fisiologis semisal lidahnya pendek, tak punya anak tekak, atau langit-langitnya cekung. Penanganannya tentu harus dibawa ke dokter.
5. Mengucapkan hanya ekornya saja.
Yang ini memang sering terjadi pada anak batita. Contoh, "minum" jadi "num", "pergi" jadi "gi", "minta" jadi "ta", "mau" jadi "u", dan seterusnya. Kalau melihat logika dari teori barang masuk ke kotak, di situ jelas terlihat, barang yang masuk terakhir pasti akan jadi terdepan atau lebih dulu yang kita lihat. Nah, seperti itu pula yang terjadi pada seorang anak. Belum lagi, kemampuan otaknya untuk menangkap, mencerna, dan mengeluarkan apa yang dia miliki masih dalam tahap belajar. So, wajar dong kalau masih suka tersendat-sendat.
Gazali Solahuddin. Ilustrator: Pugoeh
Narasumber: Ira Puspita, MSi.,Pembantu Dekan I Bidang Akademik, Universitas Gunadarma, Depok
Minggu, 18 Januari 2009
INSTRUKSI KERJA BEKISTING PILE CAP DAN TIE BEAM
1.0 REFERENSI
4.1. Gambar kerja denah Pile cap dan Tie beam
4.2. Rencana Mutu Proyek
2.0 ALAT
2.1. Meteran
2.2. Theodolite
2.3. Autolevel/ bak ukur
2.4. Benang
2.5. Alat gali manual/ excavator kecil
2.6. Molen beton
2.7. Sendok semen
3.0 LANGKAH KERJA
A. Pekerjaan Persiapan
a. Sebelum dilakukan pekerjaan galian tanah, sudah dipastikan terlebih dahulu bahwa posisi, dimensi dan elevasi pile cap telah final. Artinya telah diketahui (telah ada gambar terbaru yang meliputi):
- Pembesaran pile cap akibat eksentrisitas as tiang pondasi.
- Penurunan elevasi pile cap, akibat ketidaksempurnaan kepala tiang.
b. Gali tanah pada lokasi pile cap dan tie beam sesuai dengan gambar kerja sampai dengan elevasi dasar pile cap/ tie beam ditambah dengan lantai kerja dan urugan pasir, lebar galian tersebut harus cukup untuk ruang kerja pemasangan bekisting. Lebar galian ditentukan oleh keputusan jenis bekisting yang akan dipakai. Pemakaian bekisting kayu memerlukan lebar galian yang lebih besar. Perlu diperhatikan sudut kemiringan galian tanah agar tidak longsor tergantung dari kestabilan lereng tanah khususnya untuk galian dengan kedalaman lebih dari 1 meter.
c. Setelah tiang pondasi dipotong dan diangkat dilanjutkan dengan pembuatan patok dari potongan besi atau kayu pada sudut-sudut pile cap dan pertemuan pile cap dan tie beam.
B. Pekerjaan Pelaksanaan
a. Rapikan/ ratakan dasar galian bila perlu lakukanlah pemadatan dengan stamper untuk pile cap yang besar.
b. Setelah tanah rata, urug dasar galian dengan pasir dengan ketebalan urugan sesuai persyaratan sampai dengan sisi luar rencana bekisting pile cap/ tie beam.
c. Buatlah lantai kerja di atas urugan pasir dengan tebal minimal 5 cm hingga elevasi dasar pile cap/ tie beam.
d. Marking posisi pile cap dan tie beam dengan sipatan pada lantai kerja dan tarik benang pada patok yang telah tersedia sesuai dengan rencana elevasi atas pile cap/ tie beam.
e. Pemasangan Bekisting
Pemasangan bekisting dapat menggunakan material pasangan bata kapur, batako atau bekisting kayu. Dalam menentukan jenis material bekisting yang digunakan perlu dilakukan analisa biaya dan kecepatan pemasangan. Keuntungan pemakaian bekisting kayu adalah pemakaian berulang (5 – 6 kali), relatif cepat, tetapi sesudahnya ada pekerjaan bongkar bekisting. Di pihak lain bekisting bata/ batako mempunyai keunggulan dalam hal hemat galian dan keterbatasan ruang kerja serta tidak adanya pekerjaan bongkar bekisting.
1. Bekisting kayu.
Buatlah panel bekisting sesuai dengan tinggi dimensi tie beam atau pile cap dengan menggunakan multiplek 9 mm dan diperkuat dengan kayu kaso 5/7 dijepit pada sisi atas dan bawahnya (bila diperlukan ditengah juga dipasang, khususnya untuk dimensi pile cap/ tie beam dengan tinggi 70 cm) dan diperkuat tiap jarak tertentu pada arah vertikal jarak penjepit kayu kaso pada arah vertikal disesuaikan terhadap dimensi tie beam atau pile cap sehingga mampu menahan gaya lateral pada saat pengecoran beton.
Pasanglah panel bekisting pada posisi sesuai marking yang telah disediakan.
Pasanglah sekur-sekur untuk perkuatan samping menggunakan kayu balok 7/10 pada sisi atas dan bawah panel hingga panel tidak bergeser posisinya kemudian periksalah terhadap arah vertikal / lot vertikal.
Pasanglah form tie bila dimensi tie beam cukup besar untuk perkuatan posisi panel bekisting.
2. Bekisting bata/batako/ bata kapur
Pasanglah bata / batako / bata kapur sesuai marking dengan adukan semen dan pasir untuk penyambungannya.
Uruglah tanah pada sisi samping pile cap/ tie beam hingga padat sebagai perkuatan terhadap bekisting itu sendiri.
f. Pekerjaan bekisting selesai dan dapat dilanjutkan dengan pekerjaan pemasangan tulangan pile cap/ tie beam dan pengecoran beton.
4.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN
4.1. Posisi
4.2. Dimensi
5.0 REKAMAN
5.1. Pemeriksaan Pekerjaan Sebelum Pengecoran (Lihat lamp. 6.1 dari IK/ODR/ST-12/R1 hal 1)
5.2. Pemeriksaan Pekerjaan Setelah Pengecoran (Lihat lampiran 6.2 dari IK/ODR/ST-12/R1)
6.0 LAMPIRAN
Tidak ada
4.1. Gambar kerja denah Pile cap dan Tie beam
4.2. Rencana Mutu Proyek
2.0 ALAT
2.1. Meteran
2.2. Theodolite
2.3. Autolevel/ bak ukur
2.4. Benang
2.5. Alat gali manual/ excavator kecil
2.6. Molen beton
2.7. Sendok semen
3.0 LANGKAH KERJA
A. Pekerjaan Persiapan
a. Sebelum dilakukan pekerjaan galian tanah, sudah dipastikan terlebih dahulu bahwa posisi, dimensi dan elevasi pile cap telah final. Artinya telah diketahui (telah ada gambar terbaru yang meliputi):
- Pembesaran pile cap akibat eksentrisitas as tiang pondasi.
- Penurunan elevasi pile cap, akibat ketidaksempurnaan kepala tiang.
b. Gali tanah pada lokasi pile cap dan tie beam sesuai dengan gambar kerja sampai dengan elevasi dasar pile cap/ tie beam ditambah dengan lantai kerja dan urugan pasir, lebar galian tersebut harus cukup untuk ruang kerja pemasangan bekisting. Lebar galian ditentukan oleh keputusan jenis bekisting yang akan dipakai. Pemakaian bekisting kayu memerlukan lebar galian yang lebih besar. Perlu diperhatikan sudut kemiringan galian tanah agar tidak longsor tergantung dari kestabilan lereng tanah khususnya untuk galian dengan kedalaman lebih dari 1 meter.
c. Setelah tiang pondasi dipotong dan diangkat dilanjutkan dengan pembuatan patok dari potongan besi atau kayu pada sudut-sudut pile cap dan pertemuan pile cap dan tie beam.
B. Pekerjaan Pelaksanaan
a. Rapikan/ ratakan dasar galian bila perlu lakukanlah pemadatan dengan stamper untuk pile cap yang besar.
b. Setelah tanah rata, urug dasar galian dengan pasir dengan ketebalan urugan sesuai persyaratan sampai dengan sisi luar rencana bekisting pile cap/ tie beam.
c. Buatlah lantai kerja di atas urugan pasir dengan tebal minimal 5 cm hingga elevasi dasar pile cap/ tie beam.
d. Marking posisi pile cap dan tie beam dengan sipatan pada lantai kerja dan tarik benang pada patok yang telah tersedia sesuai dengan rencana elevasi atas pile cap/ tie beam.
e. Pemasangan Bekisting
Pemasangan bekisting dapat menggunakan material pasangan bata kapur, batako atau bekisting kayu. Dalam menentukan jenis material bekisting yang digunakan perlu dilakukan analisa biaya dan kecepatan pemasangan. Keuntungan pemakaian bekisting kayu adalah pemakaian berulang (5 – 6 kali), relatif cepat, tetapi sesudahnya ada pekerjaan bongkar bekisting. Di pihak lain bekisting bata/ batako mempunyai keunggulan dalam hal hemat galian dan keterbatasan ruang kerja serta tidak adanya pekerjaan bongkar bekisting.
1. Bekisting kayu.
Buatlah panel bekisting sesuai dengan tinggi dimensi tie beam atau pile cap dengan menggunakan multiplek 9 mm dan diperkuat dengan kayu kaso 5/7 dijepit pada sisi atas dan bawahnya (bila diperlukan ditengah juga dipasang, khususnya untuk dimensi pile cap/ tie beam dengan tinggi 70 cm) dan diperkuat tiap jarak tertentu pada arah vertikal jarak penjepit kayu kaso pada arah vertikal disesuaikan terhadap dimensi tie beam atau pile cap sehingga mampu menahan gaya lateral pada saat pengecoran beton.
Pasanglah panel bekisting pada posisi sesuai marking yang telah disediakan.
Pasanglah sekur-sekur untuk perkuatan samping menggunakan kayu balok 7/10 pada sisi atas dan bawah panel hingga panel tidak bergeser posisinya kemudian periksalah terhadap arah vertikal / lot vertikal.
Pasanglah form tie bila dimensi tie beam cukup besar untuk perkuatan posisi panel bekisting.
2. Bekisting bata/batako/ bata kapur
Pasanglah bata / batako / bata kapur sesuai marking dengan adukan semen dan pasir untuk penyambungannya.
Uruglah tanah pada sisi samping pile cap/ tie beam hingga padat sebagai perkuatan terhadap bekisting itu sendiri.
f. Pekerjaan bekisting selesai dan dapat dilanjutkan dengan pekerjaan pemasangan tulangan pile cap/ tie beam dan pengecoran beton.
4.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN
4.1. Posisi
4.2. Dimensi
5.0 REKAMAN
5.1. Pemeriksaan Pekerjaan Sebelum Pengecoran (Lihat lamp. 6.1 dari IK/ODR/ST-12/R1 hal 1)
5.2. Pemeriksaan Pekerjaan Setelah Pengecoran (Lihat lampiran 6.2 dari IK/ODR/ST-12/R1)
6.0 LAMPIRAN
Tidak ada
instruksi kerja raft foundation
1.0 REFERENSI
4.1. Gambar kerja struktur
4.2. SK-SNI-1991
4.3. Rencana Mutu Proyek
2.0 ALAT
2.1 Concrete pump
2.2 Selang Tremi
2.3 Vibrator
2.4 Pompa Dewatering
2.5 Jidar Almunium
2.6 Thermo Coupler
2.7 Auto Level / Waterpass
2.8 Theodolite
2.9 Bak Ukur
2.10 Lampu Penerangan
2.11 Tenda
3.0 LANGKAH KERJA
3.1. Perencanaan
a. Pengecoran raft foundation dilakukan dalam satu kali pengecoran, kecuali bila ada hal-hal yang membuat pengecoran tidak dapat dilakukan dalam satu kali, maka perlu dilakukan pembagian area pengecoran yang harus mendapat persetujuan dari Konsultan.
b. Karena volume beton yang dibutuhkan dalam satu pengecoran besar, maka hal tersebut menjadi pertimbangan dalam penentuan supplier beton (kapasitas batching plant dan kontinuitas pengiriman beton).
c. Beton harus disupply oleh satu supplier, dapat dengan beberapa batching plant, untuk menjamin mutu dan keseragaman beton.
d. Karena area pengecoran raft foundation luas dan memerlukan volume beton yang besar maka harus direncanakan jumlah concrete pump yang dibutuhkan, dengan memperhatikan setting time beton untuk menghindari cold joint, penempatan concrete pump, penempatan dan perpindahan pipa concrete, juga sirkulasi mobil mixer beton.
e. Tenaga kerja pengecoran harus direncanakan jumlah dan pembagian shiftnya sesuai jumlah concete pump dan waktu pengecoran yang panjang (12-15 orang untuk 1 concrete pump dengan pembagian shift kerja setiap 10 jam).
3.2. Persiapan
a. Membuat Sump pit ( 60 x 60 x 60 cm) disudut galian raft foundation (min 2 bh) untuk dewatering dan pembuangan kotoran.
b. Buat lubang dibeberapa tempat (minimum 4 lokasi) pada pembesian atas raft foundation untuk jalan masuk pekerja storing cor, jika diperlukan dibuat juga tangga pekerja.
c. Lokasi pengecoran dibersihkan dengan alat :
- Compresor untuk kotoran
- Magnet baja untuk sisa – sisa kawat besi
d. Memasang kabel thermocoupler di bagian atas, tengah dan bawah pada beberapa titik di dalam area pengecoran.
e. Pemeriksaan akhir pemasangan besi sesuai bending schedule.
f. Pemasangan water stop:
d.1. Untuk yang berhubungan dengan dinding biasanya menggunakan jenis PVC
d.2. Untuk yang berhubungan dengan pemberhentian cor antar daerah menggunakan type bentonite (seperti dodol), ini sebagai contruction joint. Sistem pemasangan terlampir.
g. Memeriksa kesiapan alat-alat, yaitu
- Concrete pump
- Vibrator
- Tenda
- Lampu penerangan
h. Pemasangan relat.
3.3. Pelaksanaan pengecoran
a. Luas dan volume beton harus dihitung terlebih dahulu untuk mengontrol pemesanan dan pengiriman beton.
b. Beton yang datang diperiksa slumpnya, yang harus sesuai dengan spesifikasi, dan kemudian dilakukan pencatatan.
c. Untuk memeriksa mutu beton, diambil sampel beton sesuai spesifikasi.
d. Penuangan beton dengan tinggi jatuh beton lebih dari 1 meter, dibantu dengan menambah selang fleksibel pada ujung pipa concrete.
e. Pengukuran suhu beton dengan thermocoupler juga dilaksanakan di dekat posisi penuangan beton, untuk mengetahui suhu beton pada saat itu. Bila suhu beton di area tersebut sudah mencapai suhu maksimum yang disyaratkan, maka penuangan beton dipindahkan, dan dilakukan lagi pengukuran suhu pada posisi penuangan beton yang baru. Demikian seterusnya dilakukan hal yang sama pada pengecoran di setiap posisi pengecoran.
f. Kontinuitas pengecoran harus dijaga untuk menghindari cold joint.
g. Perataan permukaan beton dilakukan seperti pelaksanaan pengecoran pelat lantai biasa, baik dengan atau tanpa floor hardener.
h. Setelah pengecoran selesai, dilakukan curing dengan cara :
- bila permukaan lantai memakai floor hardener maka pertama-tama curing dilakukan dengan curing compound, kemudian diikuti langkah di bawah ini
- bila tidak memakai floor hardener maka curing langsung dilakukan dengan menutup seluruh permukaan beton terlebih dahulu dengan plastik, kemudian ditutup dengan styrofoam setebal minimum 2 cm sebanyak 2 lapis dengan arah yang berbeda antara lapisan, dan kemudian disiram dengan air sampai air tergenang (water ponding)
i. Penutupan dengan plastik dan styrofoam tersebut dilakukan serapat mungkin, juga perlu adanya atap tenda untuk menutupi permukaan, menjaga agar seminimal mungkin uap air yang hilang akibat panas hidrasi beton.
j. Melakukan pemeriksaan temperatur dengan thermocoupler dari kabel yang sudah terpasang untuk mengetahui temperatur beton agar tidak melebihi temperatur yang disyaratkan dan untuk menjaga agar perbedaan temperatur pada titik yang berlainan 4 – 6 C, dengan melakukan penyiraman air yang terus menerus.
k. Setelah curing selesai dilakukan, lapisan styrofoam dapat dibuka dan pekerjaan struktur selanjutnya boleh dilakukan.
l. Bila raft foundation berhubungan dengan pelat lantai maka pada area pertemuan tersebut ada pelat lantai yg ikut dicor bersama dengan raft foundation, 2 meter dari sisi luar raft foundation dan dibuat construction joint untuk pemuaian (terlampir)
m. Bila pengecoran tidak dilakukan satu kali sehingga ada pertemuan (construction joint) antara beton yang lama dan yang baru, maka pada pertemuan beton tersebut dipasang water stop (terlampir).
4.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN
4.1 Persiapan
4.2 Pemeriksaan sebelum dan setelah pengecoran
5.0 REKAMAN
5.1 Pemeriksaan Pekerjaan Raft Foundation.
5.2 Pemeriksaan Pekerjaan Sebelum Pengecoran (Lihat lamp. 6.1 dari IK/ODR/ST-12/R1 hal 1)
5.3 Pemeriksaan Pekerjaan Setelah Pengecoran (Lihat lampiran 6.2 dari IK/ODR/ST-12/R1)
6.0 LAMPIRAN
6.1 Gambar Construction Joint
6.2 Form Pemeriksaan Pekerjaan Raft Foundation.
(Nama Proyek)
PEMERIKSAAN PEKERJAAN RAFT FOUNDATION
Form No. : (No. form)/(Nama Proyek)/PPRF/(Bulan)/(Tahun)
Tanggal : Halaman No. :
Lokasi : Jumlah Halaman :
Kuantitas :
No. Item pemeriksaan Kriteria penerimaan Hasil pemeriksaan *) Keterangan / Catatan
Sesuai Tidak sesuai Tidak perlu
1 Persiapan
- Sump pit Min. 2 bh
- Lubang inspeksi Min. 4 lokasi
- Kondisi lokasi pengecoran Bersih
- Thermo coupler Tersedia
- Waterstop Sesuai gambar kerja
- Kesiapan alat
o Concrete pump Min. ….. unit
o Vibrator Min. ….. unit
o Tenda Tersedia
o Lampu penerangan Cukup, ….. mata lampu
2 Pemeriksaan sebelum dan setelah pengecoran Sesuai checklist pemeriksaan sebelum dan setelah pengecoran Digunakan form:
- Form Pemeriksaan Sebelum Pengecoran
- Form Pemeriksaan Setelah Pengecoran
Kesimpulan *) : Diterima
Ditolak
Diterima dengan cacatan:
Diperiksa oleh,
(Owner / MK)
(Nama)
(Jabatan) Diajukan oleh,
PT TATAMULIA NUSANTARA INDAH
(Nama)
Pelaksana
Disetujui oleh,
(Owner / MK)
(Nama)
(Jabatan) Mengetahui,
PT TATAMULIA NUSANTARA INDAH
(Nama)
Site Manager
Keterangan : *) Isi tanda pada kolom / yang sesuai
4.1. Gambar kerja struktur
4.2. SK-SNI-1991
4.3. Rencana Mutu Proyek
2.0 ALAT
2.1 Concrete pump
2.2 Selang Tremi
2.3 Vibrator
2.4 Pompa Dewatering
2.5 Jidar Almunium
2.6 Thermo Coupler
2.7 Auto Level / Waterpass
2.8 Theodolite
2.9 Bak Ukur
2.10 Lampu Penerangan
2.11 Tenda
3.0 LANGKAH KERJA
3.1. Perencanaan
a. Pengecoran raft foundation dilakukan dalam satu kali pengecoran, kecuali bila ada hal-hal yang membuat pengecoran tidak dapat dilakukan dalam satu kali, maka perlu dilakukan pembagian area pengecoran yang harus mendapat persetujuan dari Konsultan.
b. Karena volume beton yang dibutuhkan dalam satu pengecoran besar, maka hal tersebut menjadi pertimbangan dalam penentuan supplier beton (kapasitas batching plant dan kontinuitas pengiriman beton).
c. Beton harus disupply oleh satu supplier, dapat dengan beberapa batching plant, untuk menjamin mutu dan keseragaman beton.
d. Karena area pengecoran raft foundation luas dan memerlukan volume beton yang besar maka harus direncanakan jumlah concrete pump yang dibutuhkan, dengan memperhatikan setting time beton untuk menghindari cold joint, penempatan concrete pump, penempatan dan perpindahan pipa concrete, juga sirkulasi mobil mixer beton.
e. Tenaga kerja pengecoran harus direncanakan jumlah dan pembagian shiftnya sesuai jumlah concete pump dan waktu pengecoran yang panjang (12-15 orang untuk 1 concrete pump dengan pembagian shift kerja setiap 10 jam).
3.2. Persiapan
a. Membuat Sump pit ( 60 x 60 x 60 cm) disudut galian raft foundation (min 2 bh) untuk dewatering dan pembuangan kotoran.
b. Buat lubang dibeberapa tempat (minimum 4 lokasi) pada pembesian atas raft foundation untuk jalan masuk pekerja storing cor, jika diperlukan dibuat juga tangga pekerja.
c. Lokasi pengecoran dibersihkan dengan alat :
- Compresor untuk kotoran
- Magnet baja untuk sisa – sisa kawat besi
d. Memasang kabel thermocoupler di bagian atas, tengah dan bawah pada beberapa titik di dalam area pengecoran.
e. Pemeriksaan akhir pemasangan besi sesuai bending schedule.
f. Pemasangan water stop:
d.1. Untuk yang berhubungan dengan dinding biasanya menggunakan jenis PVC
d.2. Untuk yang berhubungan dengan pemberhentian cor antar daerah menggunakan type bentonite (seperti dodol), ini sebagai contruction joint. Sistem pemasangan terlampir.
g. Memeriksa kesiapan alat-alat, yaitu
- Concrete pump
- Vibrator
- Tenda
- Lampu penerangan
h. Pemasangan relat.
3.3. Pelaksanaan pengecoran
a. Luas dan volume beton harus dihitung terlebih dahulu untuk mengontrol pemesanan dan pengiriman beton.
b. Beton yang datang diperiksa slumpnya, yang harus sesuai dengan spesifikasi, dan kemudian dilakukan pencatatan.
c. Untuk memeriksa mutu beton, diambil sampel beton sesuai spesifikasi.
d. Penuangan beton dengan tinggi jatuh beton lebih dari 1 meter, dibantu dengan menambah selang fleksibel pada ujung pipa concrete.
e. Pengukuran suhu beton dengan thermocoupler juga dilaksanakan di dekat posisi penuangan beton, untuk mengetahui suhu beton pada saat itu. Bila suhu beton di area tersebut sudah mencapai suhu maksimum yang disyaratkan, maka penuangan beton dipindahkan, dan dilakukan lagi pengukuran suhu pada posisi penuangan beton yang baru. Demikian seterusnya dilakukan hal yang sama pada pengecoran di setiap posisi pengecoran.
f. Kontinuitas pengecoran harus dijaga untuk menghindari cold joint.
g. Perataan permukaan beton dilakukan seperti pelaksanaan pengecoran pelat lantai biasa, baik dengan atau tanpa floor hardener.
h. Setelah pengecoran selesai, dilakukan curing dengan cara :
- bila permukaan lantai memakai floor hardener maka pertama-tama curing dilakukan dengan curing compound, kemudian diikuti langkah di bawah ini
- bila tidak memakai floor hardener maka curing langsung dilakukan dengan menutup seluruh permukaan beton terlebih dahulu dengan plastik, kemudian ditutup dengan styrofoam setebal minimum 2 cm sebanyak 2 lapis dengan arah yang berbeda antara lapisan, dan kemudian disiram dengan air sampai air tergenang (water ponding)
i. Penutupan dengan plastik dan styrofoam tersebut dilakukan serapat mungkin, juga perlu adanya atap tenda untuk menutupi permukaan, menjaga agar seminimal mungkin uap air yang hilang akibat panas hidrasi beton.
j. Melakukan pemeriksaan temperatur dengan thermocoupler dari kabel yang sudah terpasang untuk mengetahui temperatur beton agar tidak melebihi temperatur yang disyaratkan dan untuk menjaga agar perbedaan temperatur pada titik yang berlainan 4 – 6 C, dengan melakukan penyiraman air yang terus menerus.
k. Setelah curing selesai dilakukan, lapisan styrofoam dapat dibuka dan pekerjaan struktur selanjutnya boleh dilakukan.
l. Bila raft foundation berhubungan dengan pelat lantai maka pada area pertemuan tersebut ada pelat lantai yg ikut dicor bersama dengan raft foundation, 2 meter dari sisi luar raft foundation dan dibuat construction joint untuk pemuaian (terlampir)
m. Bila pengecoran tidak dilakukan satu kali sehingga ada pertemuan (construction joint) antara beton yang lama dan yang baru, maka pada pertemuan beton tersebut dipasang water stop (terlampir).
4.0 PEMERIKSAAN / PENGETESAN
4.1 Persiapan
4.2 Pemeriksaan sebelum dan setelah pengecoran
5.0 REKAMAN
5.1 Pemeriksaan Pekerjaan Raft Foundation.
5.2 Pemeriksaan Pekerjaan Sebelum Pengecoran (Lihat lamp. 6.1 dari IK/ODR/ST-12/R1 hal 1)
5.3 Pemeriksaan Pekerjaan Setelah Pengecoran (Lihat lampiran 6.2 dari IK/ODR/ST-12/R1)
6.0 LAMPIRAN
6.1 Gambar Construction Joint
6.2 Form Pemeriksaan Pekerjaan Raft Foundation.
(Nama Proyek)
PEMERIKSAAN PEKERJAAN RAFT FOUNDATION
Form No. : (No. form)/(Nama Proyek)/PPRF/(Bulan)/(Tahun)
Tanggal : Halaman No. :
Lokasi : Jumlah Halaman :
Kuantitas :
No. Item pemeriksaan Kriteria penerimaan Hasil pemeriksaan *) Keterangan / Catatan
Sesuai Tidak sesuai Tidak perlu
1 Persiapan
- Sump pit Min. 2 bh
- Lubang inspeksi Min. 4 lokasi
- Kondisi lokasi pengecoran Bersih
- Thermo coupler Tersedia
- Waterstop Sesuai gambar kerja
- Kesiapan alat
o Concrete pump Min. ….. unit
o Vibrator Min. ….. unit
o Tenda Tersedia
o Lampu penerangan Cukup, ….. mata lampu
2 Pemeriksaan sebelum dan setelah pengecoran Sesuai checklist pemeriksaan sebelum dan setelah pengecoran Digunakan form:
- Form Pemeriksaan Sebelum Pengecoran
- Form Pemeriksaan Setelah Pengecoran
Kesimpulan *) : Diterima
Ditolak
Diterima dengan cacatan:
Diperiksa oleh,
(Owner / MK)
(Nama)
(Jabatan) Diajukan oleh,
PT TATAMULIA NUSANTARA INDAH
(Nama)
Pelaksana
Disetujui oleh,
(Owner / MK)
(Nama)
(Jabatan) Mengetahui,
PT TATAMULIA NUSANTARA INDAH
(Nama)
Site Manager
Keterangan : *) Isi tanda pada kolom / yang sesuai
construction material
CONSTRUCTION MATERIALS
(Source: Standard Handbook for Civil Engineers)
This section describes the basic properties of materials commonly used in construction. For convenience, materials are grouped in the following categories: cementitious materials, metals, organic materials, and composites. Application of these materials is discussed in following sections. In these sections also, environmental degradation on the materials are described.
Cementitious Materials
Any substance that bonds materials may be considered a cement. There are many types of cements. In construction, however, the term cement generally refers to bonding agents that are mixed with water or other liquid, or both, to produce a cementing paste. Initially, a mass of particles coated with the paste is in a plastic state and may be formed, or molded, into various shapes. Such a mixture may be considered a cementitious material because it can bond other materials together. After a time, due to chemical reactions, the paste sets and themass hardens. When the particles consist of fine aggregate (sand), mortar is formed. When the particles consist of fine and coarse aggregates, concrete results.
1. Types of Cementitious Materials
Cementitious materials may be classified in several different ways. One way often used is by the chemical constituent responsible for setting or hardening the cement. Silicate and aluminate cements, in which the setting agents are calcium silicates and aluminates, are the most widely used types.
Limes, wherein the hardening is due to the conversion of hydroxides to carbonates, were formerly widely used as the sole cementitious material, but their slow setting and hardening are not compatible with modern requirements. Hence, their principal function today is to plasticize the otherwise harsh cements and add resilience to mortars and stuccoes. Use of limes is beneficial in that their slow setting promotes healing, the recementing of hairline cracks.
Another class of cements is composed of calcined gypsum and its related products. The gypsum cements are widely used in interior plaster and for fabrication of boards and blocks; but the solubility of gypsum prevents its use in construction exposed to any but extremely dry climates.
Oxychloride cements constitute a class of specialty cements of unusual properties. Their cost prohibits their general use in competition with the cheaper cements; but for special uses, such as the production of sparkproof floors, they cannot be equaled.
Masonry cements or mortar cements are widely used because of their convenience. While they are, in general, mixtures of one or more of the abovementioned cements with some admixtures, they deserve special consideration because of their economies.
Other cementitious materials, such as polymers, fly ash, and silica fume, may be used as a cement replacement in concrete. Polymers are plastics with long-chain molecules. Concretes made with them have many qualities much superior to those of ordinary concrete.
Silica fume, also known asmicrosilica, is awaste product of electric-arc furnaces. The silica reacts with lime in concrete to form a cementitious material. A fume particle has a diameter only 1% of that of a cement particle.
2. Portland Cements
Particles that become a bonding agent when mixed with water are referred to as hydraulic cements. The most widely used cements in construction are portland cements, which are made by blending a mixture of calcareous (lime-containing) materials and argillaceous (clayey) materials. (See Art. 5.3 for descriptions of other types of hydraulic cements.) The raw materials are carefully proportioned to provide the desired amounts of lime, silica, aluminum oxide, and iron oxide. After grinding to facilitate burning, the raw materials are fed into a long rotary kiln, which is maintained at a temperature around 2700 °F. The raw materials, burned together, react chemically to form hard, walnut-sized pellets of a new material, clinker.
The clinker, after discharge from the kiln and cooling, is ground to a fine powder (not less than 1600 cm2/g specific surface). During this grinding process, a retarder (usually a few percent of gypsum) is added to control the rate of setting when the cement is eventually hydrated. The resulting fine powder is portland cement.
Four compounds, however, make up more than 90% of portland cement, by weight; tricalcium silicate (C3S), dicalcium silicate (C2S), tricalcium aluminate (C3A), and tetracalcium aluminoferrite (C4AF). Each of these four compounds is identifiable in the highly magnified microstructure of portland cement clinker, and each has characteristic properties that it contributes to the final mixture.
2.1 Hydration of Cement
When water is added to portland cement, the basic compounds present are transformed to new compounds by chemical reactions [Eq. (5.1)].
Two calcium silicates, which constitute about 75% of portland cement by weight, react with the water to produce two new compounds: tobermorite gel, which is not crystalline, and calcium hydroxide, which is crystalline. In fully hydrated portland cement paste, the calcium hydroxide accounts for 25% of the weight and the tobermorite gel makes up about 50%. The third and fourth
reactions in Eq. (5.1) show how the other two major compounds in portland cement combine with
water to form reaction products. The final reaction involves gypsum, the compound added to portland cement during grinding of the clinker to control set.
Each product of the hydration reaction plays a role in the mechanical behavior of the hardened paste. The most important of these, by far, is the tobermorite gel, which is the main cementing component of cement paste. This gel has a composition and structure similar to those of a naturally occurring mineral, called tobermorite, named for the area where it was discovered, Tobermory in Scotland. The gel is an extremely finely divided substance with a coherent structure.
The average diameter of a grain of portland cement as ground from the clinker is about 10 mm. The particles of the hydration product, tobermorite gel, are on the order of a thousandth of that size. Particles of such small size can be observed only by using the magnification available in an electron microscope. The enormous surface area of the gel (about 3 million cm2/g) results in attractive forces between particles since atoms on each surface are attempting to complete their unsaturated bonds by adsorption. These forces cause particles of tobermorite gel to adhere to each other and to other particles introduced into the cement paste. Thus, tobermorite gel forms the heart of hardened cement paste and concrete in that it cements everything together.
2.2 Effects of Portland Cement Compounds
Each of the four major compounds of portland cement contributes to the behavior of the cement as it proceeds from the plastic to the hardened state after hydration. Knowledge of the behavior of each major compound upon hydration permits the amounts of each to be adjusted during manufacture to produce desired properties in the cement.
Tricalcium silicate (C3S) is primarily responsible for the high early strength of hydrated portland cement. It undergoes initial and final set within a few hours. The reaction of C3S with water gives off a large quantity of heat (heat of hydration). The rate of hardening of cement paste is directly related to the heat of hydration; the faster the set, the greater the exotherm. Hydrated C3S compound attains most of its strength in 7 days.
Dicalcium silicate (C2S) is found in three different forms, designated alpha, beta, and gamma. Since the alpha phase is unstable at room temperature and the gamma phase shows no hardening when hydrated, only the beta phase is important in portland cement.
Beta C2S takes several days to set. It is primarily responsible for the later-developing strength of
portland cement paste. Since the hydration reaction proceeds slowly, the heat of hydration is low. The beta C2S compound in portland cement generally produces little strength until after 28 days, but the final strength of this compound is equivalent to that of the C3S.
Tricalcium aluminate (C3A) exhibits an instantaneous or flash set when hydrated. It is primarily responsible for the initial set of portland cement and gives off large amounts of heat upon hydration. The gypsum added to the portland cement during grinding in the manufacturing process combines with the C3A to control the time to set. The C3A compound shows little strength increase after 1 day. Although hydrated C3A alone develops a very low strength, its presence in hydrated portland cement produces more desirable effects. An increased amount of C3A in portland cement results in faster sets and also decreases the resistance of the final product to sulfate attack.
Tetracalcium aluminoferrite (C4AF), is similar to C3A in that it hydrates rapidly and develops only low strength. Unlike C3A, however, it does not exhibit a flash set. In addition to composition, speed of hydration is affected by fineness of grinding, amount of water added, and temperatures of the constituents at the time of mixing. To achieve faster hydration, cements are ground finer. Increased initial temperature and the presence of a sufficient amount of water also speed the reaction rate.
2.3 Specifications for Portland Cements
Portland cements are normally made in five types, the properties of these types being standardized on the basis of the ASTM Standard Specification for Portland Cement (C150). Distinction between the types is based on both chemical and physical requirements. Some requirements, extracted from ASTM C150, are shown in Table 5.1. Most cements exceed the strength requirements of the specification by a comfortable margin.
Type I, general-purpose cement, is the one commonly used for structural purposes when the special properties specified for the other four types of cement are not required.
Type II, modified general-purpose cement, is used where a moderate exposure to sulfate attack is anticipated or a moderate heat of hydration is required. These characteristics are attained by placing limitations on the C3A and C3S content of the cement. Type II cement gains strength a little more slowly than Type I but ultimately reaches equal strength. Type II cement, when optional
chemical requirements, as indicated in Table 5.2, are met, may be used as a low-alkali cement where alkali-reactive aggregates are present in concrete.
Type III, high-early-strength cement, is designed for use when early strength is needed in a particular construction situation. Concrete made with Type III cement develops in 7 days the same strength that it takes 28 days to develop in concretes made with Types I or II cement. This
high early strength is achieved by increasing the C3S and C3A content of the cement and by finer
grinding. No minimum is placed upon the fineness by specification, but a practical limit occurs when the particles are so small that minute amounts of moisture will prehydrate the cement during handling and storage. Since it has high heat evolution, Type III cement should not be used in large masses. With 15% C3A, it has poor sulfate resistance. The C3A content may be limited to 8% to obtain moderate sulfate resistance or to 5% when high sulfate resistance is required.
Type IV, low-heat-of-hydration cement, has been developed for mass-concrete applications. If Type I cement is used in large masses that cannot lose heat by radiation, it liberates enough heat during hydration to raise the temperature of the concrete as much as 50 or 60 8F. This results in a relatively large increase in dimensions while the concrete is still plastic, and later differential cooling after hardening causes shrinkage cracks to develop. Low heat of hydration in Type IV cement is achieved by limiting the compounds that make the greatest contribution to heat of hydration, C3A and C3S. Since these compounds also produce the early strength of cement paste, their limitation results in a paste that gains strength relatively slowly. The heat of hydration of Type IV cement usually is about 80% of that of Type II, 65% of that of Type I, and 55% of that of Type III after the first week of hydration. The percentages are slightly higher after about 1 year.
Type V, sulfate-resisting cement, is specified where there is extensive exposure to sulfates. Typical applications include hydraulic structures exposed to water with high alkali content and structures subjected to seawater exposure. The sulfate resistance of Type V cement is achieved by reducing the C3A content to a minimum since that compound is most susceptible to sulfate attack.
Types IV and V are specialty cements not normally carried in dealer’s stocks. They are usually obtainable for use on a large project if advance arrangements are made with a cement manufacturer. Air-entraining portland cements (ASTM C226) are available for the manufacture of concrete for exposure to severe frost action. These cements are available in Types I, II, and III but not in Types IV and V. When an air-entraining agent has been added to the cement by the manufacturer, the cement is designated Type IA, IIA, or IIIA.
3. Other Types of Hydraulic Cements
Although portland cements (Art. 2) are the most common modern hydraulic cements, several other kinds are in everyday use.
(Source: Standard Handbook for Civil Engineers)
This section describes the basic properties of materials commonly used in construction. For convenience, materials are grouped in the following categories: cementitious materials, metals, organic materials, and composites. Application of these materials is discussed in following sections. In these sections also, environmental degradation on the materials are described.
Cementitious Materials
Any substance that bonds materials may be considered a cement. There are many types of cements. In construction, however, the term cement generally refers to bonding agents that are mixed with water or other liquid, or both, to produce a cementing paste. Initially, a mass of particles coated with the paste is in a plastic state and may be formed, or molded, into various shapes. Such a mixture may be considered a cementitious material because it can bond other materials together. After a time, due to chemical reactions, the paste sets and themass hardens. When the particles consist of fine aggregate (sand), mortar is formed. When the particles consist of fine and coarse aggregates, concrete results.
1. Types of Cementitious Materials
Cementitious materials may be classified in several different ways. One way often used is by the chemical constituent responsible for setting or hardening the cement. Silicate and aluminate cements, in which the setting agents are calcium silicates and aluminates, are the most widely used types.
Limes, wherein the hardening is due to the conversion of hydroxides to carbonates, were formerly widely used as the sole cementitious material, but their slow setting and hardening are not compatible with modern requirements. Hence, their principal function today is to plasticize the otherwise harsh cements and add resilience to mortars and stuccoes. Use of limes is beneficial in that their slow setting promotes healing, the recementing of hairline cracks.
Another class of cements is composed of calcined gypsum and its related products. The gypsum cements are widely used in interior plaster and for fabrication of boards and blocks; but the solubility of gypsum prevents its use in construction exposed to any but extremely dry climates.
Oxychloride cements constitute a class of specialty cements of unusual properties. Their cost prohibits their general use in competition with the cheaper cements; but for special uses, such as the production of sparkproof floors, they cannot be equaled.
Masonry cements or mortar cements are widely used because of their convenience. While they are, in general, mixtures of one or more of the abovementioned cements with some admixtures, they deserve special consideration because of their economies.
Other cementitious materials, such as polymers, fly ash, and silica fume, may be used as a cement replacement in concrete. Polymers are plastics with long-chain molecules. Concretes made with them have many qualities much superior to those of ordinary concrete.
Silica fume, also known asmicrosilica, is awaste product of electric-arc furnaces. The silica reacts with lime in concrete to form a cementitious material. A fume particle has a diameter only 1% of that of a cement particle.
2. Portland Cements
Particles that become a bonding agent when mixed with water are referred to as hydraulic cements. The most widely used cements in construction are portland cements, which are made by blending a mixture of calcareous (lime-containing) materials and argillaceous (clayey) materials. (See Art. 5.3 for descriptions of other types of hydraulic cements.) The raw materials are carefully proportioned to provide the desired amounts of lime, silica, aluminum oxide, and iron oxide. After grinding to facilitate burning, the raw materials are fed into a long rotary kiln, which is maintained at a temperature around 2700 °F. The raw materials, burned together, react chemically to form hard, walnut-sized pellets of a new material, clinker.
The clinker, after discharge from the kiln and cooling, is ground to a fine powder (not less than 1600 cm2/g specific surface). During this grinding process, a retarder (usually a few percent of gypsum) is added to control the rate of setting when the cement is eventually hydrated. The resulting fine powder is portland cement.
Four compounds, however, make up more than 90% of portland cement, by weight; tricalcium silicate (C3S), dicalcium silicate (C2S), tricalcium aluminate (C3A), and tetracalcium aluminoferrite (C4AF). Each of these four compounds is identifiable in the highly magnified microstructure of portland cement clinker, and each has characteristic properties that it contributes to the final mixture.
2.1 Hydration of Cement
When water is added to portland cement, the basic compounds present are transformed to new compounds by chemical reactions [Eq. (5.1)].
Two calcium silicates, which constitute about 75% of portland cement by weight, react with the water to produce two new compounds: tobermorite gel, which is not crystalline, and calcium hydroxide, which is crystalline. In fully hydrated portland cement paste, the calcium hydroxide accounts for 25% of the weight and the tobermorite gel makes up about 50%. The third and fourth
reactions in Eq. (5.1) show how the other two major compounds in portland cement combine with
water to form reaction products. The final reaction involves gypsum, the compound added to portland cement during grinding of the clinker to control set.
Each product of the hydration reaction plays a role in the mechanical behavior of the hardened paste. The most important of these, by far, is the tobermorite gel, which is the main cementing component of cement paste. This gel has a composition and structure similar to those of a naturally occurring mineral, called tobermorite, named for the area where it was discovered, Tobermory in Scotland. The gel is an extremely finely divided substance with a coherent structure.
The average diameter of a grain of portland cement as ground from the clinker is about 10 mm. The particles of the hydration product, tobermorite gel, are on the order of a thousandth of that size. Particles of such small size can be observed only by using the magnification available in an electron microscope. The enormous surface area of the gel (about 3 million cm2/g) results in attractive forces between particles since atoms on each surface are attempting to complete their unsaturated bonds by adsorption. These forces cause particles of tobermorite gel to adhere to each other and to other particles introduced into the cement paste. Thus, tobermorite gel forms the heart of hardened cement paste and concrete in that it cements everything together.
2.2 Effects of Portland Cement Compounds
Each of the four major compounds of portland cement contributes to the behavior of the cement as it proceeds from the plastic to the hardened state after hydration. Knowledge of the behavior of each major compound upon hydration permits the amounts of each to be adjusted during manufacture to produce desired properties in the cement.
Tricalcium silicate (C3S) is primarily responsible for the high early strength of hydrated portland cement. It undergoes initial and final set within a few hours. The reaction of C3S with water gives off a large quantity of heat (heat of hydration). The rate of hardening of cement paste is directly related to the heat of hydration; the faster the set, the greater the exotherm. Hydrated C3S compound attains most of its strength in 7 days.
Dicalcium silicate (C2S) is found in three different forms, designated alpha, beta, and gamma. Since the alpha phase is unstable at room temperature and the gamma phase shows no hardening when hydrated, only the beta phase is important in portland cement.
Beta C2S takes several days to set. It is primarily responsible for the later-developing strength of
portland cement paste. Since the hydration reaction proceeds slowly, the heat of hydration is low. The beta C2S compound in portland cement generally produces little strength until after 28 days, but the final strength of this compound is equivalent to that of the C3S.
Tricalcium aluminate (C3A) exhibits an instantaneous or flash set when hydrated. It is primarily responsible for the initial set of portland cement and gives off large amounts of heat upon hydration. The gypsum added to the portland cement during grinding in the manufacturing process combines with the C3A to control the time to set. The C3A compound shows little strength increase after 1 day. Although hydrated C3A alone develops a very low strength, its presence in hydrated portland cement produces more desirable effects. An increased amount of C3A in portland cement results in faster sets and also decreases the resistance of the final product to sulfate attack.
Tetracalcium aluminoferrite (C4AF), is similar to C3A in that it hydrates rapidly and develops only low strength. Unlike C3A, however, it does not exhibit a flash set. In addition to composition, speed of hydration is affected by fineness of grinding, amount of water added, and temperatures of the constituents at the time of mixing. To achieve faster hydration, cements are ground finer. Increased initial temperature and the presence of a sufficient amount of water also speed the reaction rate.
2.3 Specifications for Portland Cements
Portland cements are normally made in five types, the properties of these types being standardized on the basis of the ASTM Standard Specification for Portland Cement (C150). Distinction between the types is based on both chemical and physical requirements. Some requirements, extracted from ASTM C150, are shown in Table 5.1. Most cements exceed the strength requirements of the specification by a comfortable margin.
Type I, general-purpose cement, is the one commonly used for structural purposes when the special properties specified for the other four types of cement are not required.
Type II, modified general-purpose cement, is used where a moderate exposure to sulfate attack is anticipated or a moderate heat of hydration is required. These characteristics are attained by placing limitations on the C3A and C3S content of the cement. Type II cement gains strength a little more slowly than Type I but ultimately reaches equal strength. Type II cement, when optional
chemical requirements, as indicated in Table 5.2, are met, may be used as a low-alkali cement where alkali-reactive aggregates are present in concrete.
Type III, high-early-strength cement, is designed for use when early strength is needed in a particular construction situation. Concrete made with Type III cement develops in 7 days the same strength that it takes 28 days to develop in concretes made with Types I or II cement. This
high early strength is achieved by increasing the C3S and C3A content of the cement and by finer
grinding. No minimum is placed upon the fineness by specification, but a practical limit occurs when the particles are so small that minute amounts of moisture will prehydrate the cement during handling and storage. Since it has high heat evolution, Type III cement should not be used in large masses. With 15% C3A, it has poor sulfate resistance. The C3A content may be limited to 8% to obtain moderate sulfate resistance or to 5% when high sulfate resistance is required.
Type IV, low-heat-of-hydration cement, has been developed for mass-concrete applications. If Type I cement is used in large masses that cannot lose heat by radiation, it liberates enough heat during hydration to raise the temperature of the concrete as much as 50 or 60 8F. This results in a relatively large increase in dimensions while the concrete is still plastic, and later differential cooling after hardening causes shrinkage cracks to develop. Low heat of hydration in Type IV cement is achieved by limiting the compounds that make the greatest contribution to heat of hydration, C3A and C3S. Since these compounds also produce the early strength of cement paste, their limitation results in a paste that gains strength relatively slowly. The heat of hydration of Type IV cement usually is about 80% of that of Type II, 65% of that of Type I, and 55% of that of Type III after the first week of hydration. The percentages are slightly higher after about 1 year.
Type V, sulfate-resisting cement, is specified where there is extensive exposure to sulfates. Typical applications include hydraulic structures exposed to water with high alkali content and structures subjected to seawater exposure. The sulfate resistance of Type V cement is achieved by reducing the C3A content to a minimum since that compound is most susceptible to sulfate attack.
Types IV and V are specialty cements not normally carried in dealer’s stocks. They are usually obtainable for use on a large project if advance arrangements are made with a cement manufacturer. Air-entraining portland cements (ASTM C226) are available for the manufacture of concrete for exposure to severe frost action. These cements are available in Types I, II, and III but not in Types IV and V. When an air-entraining agent has been added to the cement by the manufacturer, the cement is designated Type IA, IIA, or IIIA.
3. Other Types of Hydraulic Cements
Although portland cements (Art. 2) are the most common modern hydraulic cements, several other kinds are in everyday use.
Langganan:
Postingan (Atom)